NASIONAL

Jurnalis Senior: AI Cuma Alat Bantu, Etika dan Akurasi Tetap di Tangan Manusia

“AI adalah alat, jurnalistik harus memanfaatkan teknologi untuk produksi,” kata pendiri KabarMakassar.com tersebut.

Pengajar Akademi Jurnalis Indonesia ini memaparkan perbedaan mendasar antara kemampuan AI yang sekadar menghasilkan konten dengan kedalaman jurnalisme yang memverifikasi fakta.

Secara teknis, AI bekerja atas dasar memprediksi serta mengoptimalkan data untuk menskalakan informasi, sedangkan jurnalisme bekerja membuktikan kebenaran dan mempertimbangkan dampak publikasi terhadap masyarakat dan demokrasi.

AI tools dinilai mampu membantu proses transkripsi, translation, tagging, pencarian arsip, analisis data, hingga merangkum informasi, tetapi hanya jurnalisme manusia yang sanggup memberikan konteks, kesadaran etik, serta akuntabilitas sosial.

“AI mempercepat proses, sedangkan manusia memastikan akurasi, konteks, serta tanggung jawab publik karena konten bukan soal seberapa besar diproduksi, tetapi soal dapat dipercaya,” jelasnya.

Konsep Augmented Journalism menggabungkan keunggulan kecepatan dan skala (speed + scale) dari AI dengan penilaian (judgment), etika (ethics), serta akuntabilitas (accountability) dari manusia.

Dalam ekosistem media modern, reporter dan editor tetap memegang kendali editorial (human in the loop) untuk melakukan fact-checking dan penilaian nilai berita sebelum informasi dipublikasikan kepada audiens.

Mantan wartawan MetroTV, SCTV, dan The Jakarta Post tersebut menutup paparannya dengan menegaskan batas tegas antara kecerdasan buatan dan produk pers.

“Bedanya AI dengan jurnalistik adalah AI itu mesin, sementara jurnalistik terikat Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik,” pungkasnya.[]

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button