Jurnalis Senior: AI Cuma Alat Bantu, Etika dan Akurasi Tetap di Tangan Manusia
JAKARTA (Suaraislam.id)— Muslimah Wahdah Islamiyah menggelar Mini Workshop Digital Talent di Jakarta Library, Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (18/08/2026).
Acara yang diikuti puluhan Muslimah Wahdah dari seluruh Indonesia itu menghadirkan narasumber Jurnalis Senior Upi Asmaradhana, presenter TVOne Andi Kumala, Wakil Ketua III Muslimah Wahdah Islamiyah Zelfia, dan Ketua Tim Konten dan Publikasi Pusat Pengembangan Literasi Digital Kementerian Komdigi RI, Nurlia Hikmah.
Dalam pemaparannya, Jurnalis Senior Upi Asmaradhana menekankan pentingnya sikap adaptif di tengah arus pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
“Dunia saat ini bergerak demikian cepat, terjadi perubahan, dan kita perlu adaptasi karena bukan orang kaya yang bertahan, melainkan orang yang mampu beradaptasi,” ujar CEO KGI Network tersebut.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) periode 2023–2027 itu juga mendorong anggota Wahdah Islamiyyah untuk mengambil peran strategis dalam peta informasi global.
“Wahdah Islamiyah harus mampu menghadapi perubahan global ini sebab siapa yang ingin menguasai dunia harus menguasai informasi,” tutur Duta Literasi Digital Indonesia tersebut.
Penerima Udin Award 2009 ini menyoroti fenomena produksi konten yang kian murah dan cepat sehingga memicu lonjakan volume informasi dalam skala masif.
Kondisi tersebut menyebabkan informasi tepercaya harus bersaing ketat dengan disinformasi, manipulasi, konten sintetis, hingga potongan konteks di ranah digital.
Repetisi pesan yang diproduksi secara cepat juga memicu bahaya illusory truth effect, di mana informasi salah yang terus diulang akan terasa familiar lalu dianggap sebagai persepsi kebenaran oleh publik.
Alur kebingungan informasi dari algoritma ini mengancam masyarakat melalui risiko manipulasi opini publik yang memicu polarisasi, bias informasi, hingga penurunan kepercayaan publik terhadap media.
“Sekarang ini terjadi banjir konten tetapi krisis kepercayaan, sehingga tugas kita adalah memproduksi konten yang layak dijadikan rujukan meski diproses menggunakan AI,” ungkap jurnalis lulusan Universitas Hasanuddin Makassar itu.
Ia mengingatkan bahwa kecepatan distribusi informasi saat ini kerap melampaui kecepatan verifikasi faktual di lapangan.
Di tengah kelimpahan informasi tersebut, fungsi verifikasi yang dijalankan oleh jurnalis profesional justru menjadi semakin bernilai dan krusial.






