Kebijakan tegas kini diberlakukan secara ketat, di mana setiap bentuk kecurangan atau jika mitra berbuat semena-mena membuat menu akan langsung diganjar sanksi pemecatan (suspend) permanen.
“Tenang; sekarang apa-apa sudah ada suspend, tanpa insentif; nah, kalau dia nggak nurut sama kalian, dan bikin menu suka-suka dia, kita suspend nanti tapi tanpa insentif,” tegasnya mematok batas kompromi.
Tindakan tegas tanpa ampun ini wajib diterapkan karena penyalahgunaan anggaran belanja makanan anak-anak dinilai sama dengan perilaku lancung korupsi.
Pihak mitra pengadaan dilarang keras mengganggu gugat uang belanja pokok karena mereka sudah mendapatkan alokasi dana insentif tersendiri secara profesional.
Guna mencegah terjadinya praktik monopoli yang rawan penyelewengan, aturan petunjuk teknis mewajibkan setiap satu SPPG minimal memiliki jaringan kerja sama dengan 15 pemasok (supplier).
Langkah investigasi BGN bahkan telah menemukan pelanggaran di wilayah Jakarta Timur yang hanya menggunakan sedikit pemasok, sehingga langsung dijatuhi sanksi pembekuan operasional saat itu juga.
“Saya kemarin menemukan di Jakarta Timur masih ada yang hanya punya 3-4 supplier; itu disuspend, minimal harus ada 15 supplier,” cetusnya tanpa ragu.
Nanik juga mengingatkan dengan tegas bahwa Pengawas Gizi bersama Pengawas Keuangan wajib hadir secara fisik di setiap titik kritis utama, terutama saat proses penurunan (dropping) pasokan bahan pangan.
Pengawasan melekat sejak awal ini bertujuan agar seluruh bahan baku yang masuk benar-benar melalui proses kurasi mutu yang ketat sebelum dimasak.
“Karena, pada saat dropping bahan baku harusnya sudah diperiksa, sudah dilihat apakah bahan itu bagus atau tidak; kalau tidak, langsung ditolak; kalau perlu kita nggak usah masak kalau dia tidak bisa mengganti, jangan dipaksakan!” imbau Nanik menuntut kedisiplinan penuh.
Langkah preventif pada titik penerimaan barang ini merupakan kunci utama dalam menjaga sistem keamanan pangan sebelum masuk ke dalam kuali besar.
Aparat di lapangan diminta peka menolak bahan yang mulai membusuk atau tidak segar, serta dilarang membiarkan barang kiriman digeletakkan sembarangan tanpa pemeriksaan matang.
“Kalau anda melihat ayam yang datang sudah mulai kebiru-biruan, dan di dalam hati saja anda sudah ragu, langsung drop saja… Ayam juga sering datang dalam bentuk bongkahan, minta aslap bongkar, lihat, bisa jadi di dalamnya sudah busuk,” kata Nanik mencontohkan secara detail.
Demi menunjang higienitas hasil produksi, BGN berkomitmen mendorong percepatan pemenuhan modernisasi fasilitas sarana prasarana penunjang di setiap gudang penyimpanan SPPG.






