IBRAH

Kejahatan Lain Kaum Luth Selain Hubungan Sejenis

Nabi Luth as sendiri tidak pernah mengusir kaumnya. Beliau justru terus menasihati mereka dengan penuh kesabaran, berulang kali, hingga batas akhir. Hal itu menunjukkan bahwa dakwah Islam berdiri di atas nasihat, kesabaran, dan ajakan kepada kebenaran, serta amar makruf nahi mungkar sebagai upaya pencegahan perilaku menyimpang.

Karena itu, kisah kaum Luth pada hakikatnya merupakan peringatan tentang sebuah masyarakat yang mengalami keruntuhan akibat hilangnya rasa malu, rusaknya moral, maraknya kemungkaran di ruang publik, dan tumbuhnya budaya anti-kritik. Islam menjaga fitrah untuk mencegah manusia menghancurkan dirinya sendiri.

Allah Swt juga mengingatkan: “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, selama engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka. Dan Allah tidak akan mengazab mereka, sedangkan mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal [8]: 33).

Ayat ini menunjukkan bahwa pintu rahmat dan ampunan Allah selalu terbuka selama manusia mau kembali kepada-Nya.

Pada akhirnya, meski penyimpangan seksual sebagai faktor utama yang menjadikan sebuah peradaban rusak. Namun yang perlu menjadi perhatian adalah ketika suatu perbuatan salah berubah menjadi norma sosial, dipromosikan sebagai identitas yang kebal terhadap kritik, sementara nilai-nilai yang menyelamatkan keluarga dan peradaban perlahan-lahan dikikis. Apabila sebuah masyarakat telah mencapai titik tersebut, maka pertanyaannya bukan lagi apakah peradaban itu akan mengalami keruntuhan, melainkan kapan keruntuhan itu akan terjadi. Wallahua’lam. (SF)

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button