Kekuatan Cinta
Seorang Muslim merasa bahagia ketika ia melakukan hubungan seks yang sah sesuai Islam, dengan istrinya. Ia merasa galau ketika ia melakukan ‘aktivitas seks‘ yang bertentangan dengan Al-Qur’an atau as Sunnah.
Begitulah yang terjadi dalam perasaan orang Mukmin ketika ia telah merasakan nikmat yang tertinggi, taat kepada Allah dan RasulNya. Karena itu Rasulullah mengingatkan,
“Ada tiga perkara, siapa yang memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya. Ia mencintai seseorang hanya karena Allah. Ia benci kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci dilempar ke dalam neraka.” (HR Bukhari Muslim)
ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا
“Telah merasakan manisnya iman orang yang ridha Allah sebagai Rabb-nya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai Rasulnya.” (HR Muslim)
Dengan kecintaan yang tinggi pada Allah dan RasulNya, maka seorang Muslim akan senantiasa mengarahkan hidupnya untuk selalu taat kepada keduanya. Ia takut atau sedih kalau sampai melanggar perintah Allah dan RasulNya.
Kecintaan yang mendalam ini mengakibatkan seorang Muslim berusaha sekuat mungkin menjalankan perintah Allah baik yang wajib maupun yang sunnah. Selain itu ia juga berusaha menjauhi yang dilarang Allah, baik yang haram maupun yang makruh.
Makanya di samping shalat wajib lima waktu ia berusaha menjalankan shalat sunnah rawatib, shalat dhuha, shalat tahajud dan lainnya. Juga ia berusaha sedekah sebanyak mungkin selain berzakat. Ia tidak tahan melihat kemiskinan terpampang dihadapannya. Ia ingin selalu memberi dan memberi.
Begitulah bila tertanam kecintaan yang mendalam terhadap Allah dan RasulNya. Yang tumbuh dalam dirinya adalah sifat-sifat akhkaqul karimah. Akhlak yang mulia.
Rasulullah saw menjelaskan,
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR Bukhari)
خِيَارُكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari & Muslim)
إِنَّ أَحَبَّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi)
Kecintaan yang mendalam terhadap Allah dan RasulNya ini, selain menumbuhkan akhlak yang mulia, juga akan memberikan kebahagiaan yang tinggi pada seorang Muslim.
Mari kita renungkan ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadikan seorang Muslim Bahagia (mencapai kemenangan di dunia dan akhirat), berikut ini:
قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ ۙ وَالَّذِيْنَ هُمْ لِلزَّكٰوةِ فٰعِلُوْنَ ۙ وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ ۙ اِلَّا عَلٰٓى اَزْوَاجِهِمْ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُمْ فَاِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَۚ فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَاۤءَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْعَادُوْنَ ۚ وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ ۙ وَالَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَوٰتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ ۘ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْوٰرِثُوْنَ ۙ الَّذِيْنَ يَرِثُوْنَ الْفِرْدَوْسَۗ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
“Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin.(Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, orang-orang yang meninggalkan (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki. Sesungguhnya mereka tidak tercela (karena menggaulinya). Maka, siapa yang mencari (pelampiasan syahwat) selain itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Sungguh beruntung pula) orang-orang yang memelihara amanat dan janji mereka serta orang-orang yang memelihara salat mereka. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi. (Yaitu) orang-orang yang akan mewarisi (surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Mukminun 1-11)






