NUIM HIDAYAT

Kekuatan Cinta

Dalam ayat lainnya Allah menyatakan,

۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ اُولٰۤىِٕكَ جَزَاۤؤُهُمْ مَّغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَجَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۗ وَنِعْمَ اَجْرُ الْعٰمِلِيْنَۗ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌۙ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ

“Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Demikian (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan apa yang mereka kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan mereka mengetahui(-nya).

Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. (Itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang mengerjakan (amal-amal saleh). Sungguh, telah berlalu sebelum kamu sunah-sunah (Allah).Oleh karena itu, berjalanlah di (segenap penjuru) bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan para pendusta (rasul-rasul).” (QS Ali Imran 133-137)

Juga renungkan ayat-ayat berikut yang berbicara tentang hamba-hamba yang disayangi Allah (yang memiliki sifat-sifat terpuji),

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا وَالَّذِيْنَ يَبِيْتُوْنَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَّقِيَامًا وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ اِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا ۖ اِنَّهَا سَاۤءَتْ مُسْتَقَرًّا وَّمُقَامًا وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا

“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam.” Dan, orang-orang yang mengisi waktu malamnya untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri. Dan, orang-orang yang berkata, “Wahai Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami (karena) sesungguhnya azabnya itu kekal.” Sesungguhnya ia (Jahanam itu) adalah tempat menetap dan kediaman yang paling buruk. Dan, orang-orang yang apabila berinfak tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir. (Infak mereka) adalah pertengahan antara keduanya.” (QS. al Furqan 63-77)

Cinta kepada Allah dan RasulNya menjadikan seorang Muslim mempunyai sifat-sifat yang mulia: berani beramar makruf nahi mungkar, jujur, dapat dipercaya, istiqamah, zuhud, rajin, berbakti kepada orang tua, senang shalat berjamaah di masjid (laki-laki), rajin shalat sunnah, suka membantu orang lain dan lain-lain.

Orang-orang kafir yang tidak mempercayai Allah dan Nabi Muhammad, tidak ada kekuatan cinta yang murni di hatinya. Mereka bertindak atas dasar hawa nafsu atau instink hewani.

Maka jangan heran kaum Kristen Evangelis di dunia bekerjasama dengan zionis Israel mengadakan pembantaian yang sadis kepada saudara-saudara Muslim kita di Gaza/Palestina dan Iran. ‘Kitab palsu‘ mereka dijadikan landasan hidup, sehingga yang tumbuh bukan akhlak mulia tapi akhlak yang buruk.

Mungkinkah kitab suci menyuruh orang untuk menyiksa tawanan, membunuh anak-anak-wanita-dokter-wartawan? Hanya kitab kotor/palsu yang menyuruh manusia berbuat demikian.

Maka, Al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa di dunia saat ini yang asli/otentik hanya Al-Qur’an. ‘Kitab-kitab suci‘ yang lain sudah tidak suci lagi, sudah banyak campur tangan manusia. Keaslian ini juga dibuktikan dalam periode sejarah manusia, selalu banyak yang hafal Al-Qur’an. Jadi Al-Qur’an dijaga dengan hafalan dan tulisan (manuskrip).

Sedangkan kitab-kitab selalin Al-Qur’an jarang yang menghafalnya dan tidak ada manuskripnya yang utuh. Tidak ada teks asli (bukan terjemah) pada kitab-kitab lain, juga menunjukkan adanya perubahan kitab yang dikatakan suci itu.

Karena itu Allah SWT dalam Al-Qur’an menyatakan,

أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِن بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan beriman kepadamu, padahal segolongan dari mereka dahulu mendengar firman Allah, kemudian mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahuinya?” (QS. al Baqarah 75)

فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِندِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا يَكْسِبُونَ

Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka sendiri, kemudian mereka mengatakan, “Ini dari Allah,” untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka celakalah mereka karena apa yang ditulis oleh tangan mereka, dan celakalah mereka karena apa yang mereka peroleh.” (QS. al Baqarah 79)

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5Laman berikutnya
Back to top button