Kemana Arah Pendidikan Kita?
Secara global, Indonesia masih masuk 10 terbawah dunia. Ini menjadi alarm keras bahwa sistem pendidikan kita belum berhasil menumbuhkan literasi, numerasi, dan keterampilan sains yang memadai.
Secara umum kondisi sekolah kita masih penuh dengan ketimpangan. Sekolah perkotaan mendekati standar modern, sementara banyak sekolah desa masih kekurangan guru, internet, perpustakaan, hingga sanitasi. Kualitas guru juga timpang: distribusi tidak merata dan kompetensi masih menjadi persoalan klasik.
Selain itu guru masih terbebani banyak administrasi. Alih-alih mengajar, guru sering sibuk mengisi berlembar-lembar laporan. Waktu kreativitas mengajar menjadi tergerus.
Maka kita perlu mengingat para ahli pendidikan kita. Ki Hajar Dewantara mengingatkan,“Pendidikan bukan hanya memajukan intelek, tetapi juga membangun manusia berbudi pekerti.”
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin, menulis bahwa ilmu tanpa akhlak hanya akan melahirkan kerusakan dan kebangkrutan moral. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah, menekankan bahwa pendidikan harus membangun peradaban (umran). Tanpa moral, ilmu tidak melahirkan manfaat, tetapi justru kehancuran.
KH. Hasyim Asy’ari menekankan adab sebagai fondasi pendidikan. Tanpa adab, ilmu tidak berkah. Buya Hamka menyatakan: “Ilmu yang tidak bertali kepada iman adalah ibarat api yang akan membakar pemiliknya.”
Haji Agus Salim pernah mengkritik keras pendidikan kolonial yang hanya mencetak pegawai, bukan manusia merdeka. Kritik itu masih relevan: apakah sekolah hari ini hanya mencetak buruh industri?
Sedang Mencari Arah
Jika membaca sejarah, Indonesia pernah punya pendidikan yang kuat secara karakter (pesantren) dan idealis secara nasional (Ki Hajar Dewantara). Namun fakta mutakhir menunjukkan pendidikan kita krisis kualitas sekaligus krisis akhlak.
Kita tidak kekurangan kurikulum, tetapi kekurangan arah. Para ahli berbicara tentang learning crisis. Para ulama berbicara tentang moral crisis.
Maka arah pendidikan Indonesia harus kembali pada dua pilar besar: ilmu dan akhlak, sains dan iman, kemajuan teknologi dan kekuatan moral. Ringkasnya pendidikan di Indonesia harus menciptakan manusia yang shalih, cerdas dan kreatif. Wallahu alimun hakim. []
Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.






