NUIM HIDAYAT

Kemana Arah Pendidikan Kita?

Melihat kondisi pendidikan di tanah air, kita prihatin. Selain adanya kurikulum yang terus berganti, juga tidak ada keriusan dalam mencapai tujuan pendidikan nasional.

Berdasarkan Pasal 3 UU No. 20 Tahun 2003, pendidikan nasional memiliki tujuan supaya potensi peserta didik berkembang menjadi manusia yang: beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat (jasmani dan rohani), berilmu (cerdas), cakap (terampil), kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Meski nampak bagus tujuan pendidikan ini, namun dalam pelaksanaan masih jauh panggang dari api. Bagaimana menjadikan murid beriman dan bertakwa serta berakhlak mulia pendidikan agama hanya dua jam per minggu? Padahal pendidikan agama di tanah air memiliki tempat yang strategis dalam menciptakan karakter anak didik.

Sejak masa kolonial, pendidikan di Nusantara dibentuk oleh dua jalur:

  1. Pesantren, pusat pembentukan moral, akhlak, dan ilmu agama.
  2. Sekolah kolonial, yang lebih berorientasi birokrasi dan administrasi.

Pada masa awal kemerdekaan, tokoh seperti Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan Indonesia harus membuat manusia “merdeka lahir batin”. Bukan sekadar cerdas, tetapi berkarakter dan berkepribadian nasional.

Di masa Orde Lama dan Orde Baru, pendidikan semakin diarahkan untuk konsolidasi negara. Pada era reformasi, kurikulum berubah cepat—seolah mencari jati diri—hingga kini kita berpindah dari KTSP, Kurikulum 2013, hingga Kurikulum Merdeka.

Pertanyaannya: apakah perubahan itu membawa loncatan kualitas? Fakta mutakhir menjawabnya dengan getir. Ranking pendidikan Indonesia di dunia mengkhawatirkan.

Menurut PISA, Programme for International Student Assessment, program penilaian internasional yang dilakukan oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) untuk mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun di berbagai negara dalam tiga bidang utama:

  1. Literasi Membaca (reading literacy)
  2. Matematika (mathematical literacy)
  3. Sains (scientific literacy)

Indonesia dalam posisi yang menyedihkan. Data PISA 2022 (dirilis 2023) menempatkan Indonesia pada:

  • Peringkat 71 dari 81 negara dalam membaca
  • Peringkat 73 dari 81 negara dalam matematika
  • Peringkat 72 dari 81 negara dalam sains

1 2Laman berikutnya
Back to top button