RESONANSI

Kemarau dan Keterbatasan Manusia

Ketika Manusia Kembali Menengadah

Kesadaran semacam itu sebenarnya bukanlah hal baru. Jauh sebelum satelit dan aplikasi cuaca hadir, masyarakat Nusantara telah mengembangkan pengetahuan lokal untuk membaca tanda alam serta mengelola air secara turun-temurun.

Ketika hujan tidak kunjung turun, lahir pula berbagai tradisi memohon hujan. Dalam ajaran Islam, dikenal shalat istisqa yang dilaksanakan untuk memohon kepada Allah Swt. agar hujan diturunkan.

Shalat istisqa tidak berhenti pada permohonan air belaka. Di dalamnya terdapat anjuran memperbanyak pertobatan, memohon ampunan, berbuat kebajikan, serta melakukan introspeksi diri.

Di sinilah letak titik temunya. Manusia dari berbagai zaman dan latar belakang bertemu pada perasaan yang sama ketika kemarau melanda, yaitu perasaan tidak berdaya.

Sains berusaha menjelaskan, teknologi berusaha mengantisipasi, dan agama mengajarkan manusia untuk mengakui adanya kekuasaan yang melampaui dirinya. Kemarau mempertemukan semuanya di hadapan satu kenyataan bahwa manusia dapat berusaha, tetapi Allah Swt. yang menentukan hasil.

Akan tetapi, apakah manusia hanya perlu meminta hujan? Ketika sungai menyusut, hutan terbakar, dan udara dipenuhi kabut asap, manusia berharap keadaan kembali seperti semula.

Namun, setelah hujan turun, apakah perilaku manusia ikut berubah? Persoalan ekologis tidak bisa hanya dibebankan pada takdir cuaca dari langit karena ada faktor kelalaian manusia dalam pembukaan hutan, pengelolaan gambut, serta penggunaan air.

Kemarau memang tidak selalu disebabkan langsung oleh tindakan manusia. Namun, besarnya dampak kerusakan sangat ditentukan oleh cara manusia memperlakukan lingkungan sebelum kemarau tiba. Doa harus beriringan dengan rasa tanggung jawab.

Taubat Ekologis

Manusia perlu memperluas pemaknaan taubat. Selama ini taubat sering dipahami sebatas hubungan vertikal, yaitu mengakui kesalahan kepada Allah Swt., menyesali perbuatan, dan memohon ampunan.

Dalam menghadapi krisis lingkungan, semangat pertobatan tersebut harus dibawa ke dalam hubungan manusia dengan bumi melalui taubat ekologis. Konsep ini tidak hanya memohon Allah Swt. menurunkan hujan, tetapi juga mengakui kesalahan manusia dalam merusak alam.

Taubat ekologis berarti berhenti menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan limbah dan berhenti menganggap hutan sebagai ruang kosong yang bebas dieksploitasi. Konsep ini juga menuntut manusia menghentikan pemborosan air serta tidak lagi menganggap alam sebatas bahan baku industri.

Taubat ekologis berarti mengubah perilaku secara nyata, bukan sekadar mengubah lisan doa. Sungguh janggal jika manusia memohon hujan saat tanah kering, tetapi kembali merusak bumi setelah hujan diturunkan.

Apa artinya memohon hujan jika manusia tidak belajar menjaga bumi yang menampungnya?

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button