RESONANSI

Kemarau dan Keterbatasan Manusia

Kemarau sebagai Cermin

Kemarau sesungguhnya bukan sebatas fenomena meteorologi, melainkan sebuah cermin. Saat Sungai Barito menyusut dan hutan Kalimantan terbakar, manusia diperlihatkan pada rapuhnya ekosistem akibat keserakahan aktivitas industri.

Kemarau juga menguji hakikat pembangunan. Kemajuan tidak sepatutnya hanya diukur dari tingginya gedung, panjangnya jalan, atau pertumbuhan angka ekonomi.

Kemarau mengajukan pertanyaan sederhana, apakah manusia mampu menjaga kelestarian air ketika hujan tidak turun? Pembangunan yang memperkaya manusia tetapi memiskinkan sungai pada dasarnya sedang memindahkan beban krisis kepada generasi mendatang.

Belajar Mengetahui Batas

Kemarau mengajarkan satu hal fundamental bagi manusia modern, yaitu tidak semua hal dapat dikontrol oleh teknologi. Keberadaan satelit, kecerdasan buatan, maupun modifikasi cuaca tidak boleh menjadikan manusia arogan terhadap alam.

Teknologi seharusnya membuat manusia makin berhati-hati karena makin memahami kerumitan jaringan kehidupan. Oleh karena itu, saat menengadah di musim kemarau, hal yang perlu dimohonkan bukan hanya curahan hujan, melainkan juga kesanggupan untuk memperbaiki diri.

Taubat ekologis adalah kesediaan manusia memperbaiki hubungannya dengan bumi secara konsisten. Manusia bukanlah pemilik bumi, melainkan hanya penghuni. Penghuni yang baik tidak hanya menuntut fasilitas dari rumah yang ditinggalinya, tetapi juga tulus merawatnya.[]

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button