Kemerdekaan Hakiki
Prinsip pembebasan manusia juga tercermin dalam sikap Umar bin Khattab RA ketika terjadi kasus seorang warga Qibthi yang dipukul oleh putra Gubernur Mesir, Amr bin Ash. Umar kemudian mengucapkan kalimat yang terkenal dalam sejarah:
مَتَى اسْتَعْبَدْتُمُ النَّاسَ وَقَدْ وَلَدَتْهُمْ أُمَّهَاتُهُمْ أَحْرَارًا؟
“Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal ibu-ibu mereka melahirkan mereka dalam keadaan merdeka?”
Demikian pula pesan Rab’i bin Amir RA ketika berhadapan dengan Panglima Persia, Rustam. Ia menyampaikan bahwa Allah mengutus kaum Muslimin untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama menuju penghambaan kepada Allah, dari kesempitan dunia menuju kelapangan, serta dari kezaliman menuju keadilan Islam.
Dari rangkaian sejarah tersebut, Badruddin menegaskan bahwa kemerdekaan dalam perspektif Islam memiliki cakupan jauh lebih luas daripada sekadar bebas dari penjajahan fisik.
Karena itu, peringatan kemerdekaan harus menjadi momentum untuk membentuk generasi yang benar-benar merdeka secara jiwa dan mental. Ia menyebutnya sebagai generasi muḥarrar, sebagaimana konsep yang terdapat dalam Surah Ali ‘Imran ayat 35.
Ayat tersebut mengisahkan doa istri Imran:
إِذْ قَالَتِ ٱمْرَأَتُ عِمْرَٰنَ رَبِّ إِنِّى نَذَرْتُ لَكَ مَا فِى بَطْنِى مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّى ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
“Ya Rab-ku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang dimerdekakan. Maka terimalah nazar itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Dalam konteks tersebut, Badruddin menekankan pentingnya pendidikan keluarga. Orang tua harus membentuk anak-anak yang tidak diperbudak oleh materi, jabatan, dan harta, tetapi memiliki jiwa Rabbani dan Qur’ani. Sejak dini, generasi muda perlu ditanamkan sifat qana’ah, keberanian menegakkan kebenaran, serta semangat mengabdikan ilmu bagi agama, bangsa, dan negara.
Kemerdekaan juga menuntut keberanian menempuh al-‘aqabah, jalan perjuangan yang tidak selalu mudah. Sifat malas, kikir, dan pengecut harus digantikan dengan keberanian, kemurahan hati, semangat bersedekah, kepedulian terhadap anak yatim, serta kepedulian terhadap fakir miskin.
Di bidang ekonomi, kemerdekaan harus diisi dengan membebaskan masyarakat dari belenggu pemikiran materialistis dan membangun sistem ekonomi yang berlandaskan nilai-nilai Islam, gotong royong, serta ta’awun.
Pada akhirnya, Badruddin menegaskan bahwa kemerdekaan hakiki tidak cukup dirayakan secara fisik dan formalistik. Kemerdekaan harus diwujudkan melalui rasa syukur yang serius, pembentukan manusia yang merdeka jiwanya, keberanian menempuh jalan perjuangan, dan kesediaan membebaskan sesama dari berbagai bentuk penderitaan.






