Ketika Amien Rais Bicara tentang Kelebihan Pak Natsir
Pak Amien mengatakan, dari Yogja ia terus mendoakan tokoh-tokoh yang berjuang itu. “Terus saja berjalan, tidak perlu takut karena kebenaran selalu berakhir dengan kemenangan. Jadi meminjam istilah Bung Karno, go forward, never retreat. Dan juga kata Bung Karno, for a fighting nation there is no journeys end,” tegasnya.
Amien kemudian menyatakan, sesungguhnya Al-Qur’an itu memberikan tuntunan kepada kita supaya tetap optimis dalam kita memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Surat Al-Ankabut ayat terakhir ayat 69 itu berbunyi, “Walladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulana wa innallaha lamaal muhsinin.” (Barangsiapa yang berjuang di jalan Kami, maka akan Kami beri petunjuk jalan-jalanNya dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat kebaikan). Ayat ini dulu dipajang di ruang tamunya Pak Natsir di rumah Jalan Diponegoro, Menteng.
Selain itu, menurut Pak Amien, ada dua warisan Pak Natsir lagi yang perlu kita segarkan lagi, yaitu mosi integral yang mengakhiri keberadaan Republik Indonesia Serikat (RIS) dan kembali ke Republik Kesatuan. Di samping itu, peran Pak Natsir di dunia Islam tidak boleh kita lupakan. “Sampai sekarang di abad XXI belum ada sosok pemimpin Indonesia setelah Pak Natsir yang menjadi Wakil Ketua Muktamar ‘Alam Islami yang kedudukan di Makkah dan Sekretariat Jenderalnya ada di Islamabad Pakistan,” jelas tokoh Muhammadiyah dan Dewan Dakwah ini.
Dalam sejarah modern Indonesia, bangsa Indonesia pernah bingung mendefinisikan sistem politik yang paling tepat buat Indonesia. Sehingga bangsa Indonesia pernah mengalami hidup dalam sistem federalisme yang sempat melahirkan berbagai negara bagian seperti Negara Dayak Besar, Negara Indonesia Timur, Negara Borneo Tenggara, Negara Pasundan, Negara Jawa Tengah, Negara Madura, Negara Sumatra, dan lain-lain. Ada beberapa puluh yang lain.
“Nah, pada 3 April 1950, Ketua Fraksi Partai Masyumi yaitu Pak Natsir mengajukan usulan yang dikenal sebagai Mosi Integral Natsir. Di mana dalam usulannya itu seluruh fraksi yang ada dalam parlemen Republik Indonesia Serikat menyetujui untuk membubarkan Republik Indonesia Serikat dan kembali ke Republik Kesatuan Indonesia,“ jelas Amien.
Guru Besar Ilmu Politik UGM ini melanjutkan, “Alhamdulillah sampai sekarang sesungguhnya semboyan yang digaungkan di zaman Jokowi alias Mukidi bahwa NKRI harga mati itu sudah betul tetapi tidak boleh berhenti dalam teriakan-teriakan. Karena NKRI adalah sistem pemerintahan Indonesia yang memang bisa menjamin kesatupaduan bangsa Indonesia yang majemuk. Majemuk dari sisi agama, dari suku, dari sisi etnik, dari sisi ras. Ratusan lingua franca atau bahasa daerah, ratusan tradisi yang berbeda-beda antar pulau dan lain sebagainya. Nah, andai kata Republik Indonesia Serikat tidak dikembalikan ke Republik Kesatuan berkat Mosi Integral Pak Nasir itu mungkin Indonesia sudah bubar jalan. Yang paling bahagia tentu Belanda karena negara-negara bagian mudah diadudomba dan dipecahbelah dan karenanya mudah dijajah lagi oleh Belanda,“ terangnya.
Pak Amien melanjutkan, di samping itu peran Pak Natsir sebagai wakil ketua di organisasi Muktamar ‘Alam Islami yang bermarkas besar di Makkah Almukarramah juga membawa nama harum buat Indonesia di dunia Islam. “Saya masih ingat betapa keluasan pandangan, kearifan, dan ketulusan Pak Natsir memang jauh di atas rata-rata para pemimpin,” kata dia.
Menurut Pak Amien, di awal 1980-an, Letjen Ali Murtopo orang yang sangat dekat dengan Pak Harto menghubungi Pak Natsir meminta bantuan. Saat itu Presiden Soeharto berencana meminta pinjaman ke Islamic Development Bank (IDB) yang bermarkas di Jeddah.
“Nah, International Development Bank ini menyetujui asal sekali lagi, asal ada rekomendasi dari Dr. Mohammad Natsir. Tanpa berpikir terlalu panjang demi kepentingan nasional, Pak Natsir menyetujui permintaan Letjen Ali Murtopo itu. Padahal Pak Natsir masih dalam status tahanan rumah dan selalu diawasi seorang atau dua orang petugas Intel. Siapa saja tamu-tamu yang datang ke kediaman Pak Natsir di Jalan Diponegoro nomor 45. Rupanya pemilik sebuah kios penjual rokok di seberang jalan kediaman Pak Natsir itu adalah dua orang intel yang akan memantau Pak Natsir ke mana beliau pergi. Malahan karena saya sering sowan bersilaturahim dengan Pak Natsir, beliau memberitahu saya kurang lebih itu penjaga kios rokok bukan penjual rokok biasa, tetapi mereka mencatat tamu-tamu saya. Amien tidak takut? tanya Pak Natsir. Dan saya jawab, tidak pak insyaallah aman-aman saja,”ungkapnya.
Suatu saat Pak Amien dan sahabat karibnya di Muhammadiyah, Dr. Ahmad Watik Pratiknya, sowan ke rumah Pak Natsir memohon kiranya beliau berkenan memberikan mauidhah hasanah seusai Jumatan di Gelanggang Mahasiswa UGM. Waktu itu UGM belum punya masjid kampus sehingga jumatan dan tarawihan di bulan Ramadan diadakan di gelanggang mahasiswa.
Alhamdulillah Pak Natsir berkenan dan kemudian pergi ke UGM Yogyakarta dan itu adalah pertama kali Pak Natsir pergi keluar dari Jakarta. Pak Natsir menginap di rumah Dr. Watik Pratiknya di daerah Warung Boto. Namanya Warung Boto tetapi tidak ada orang jualan boto atau bata di sana.
“Nah, kami bersyukur pada Allah Subhanahu wa Taala dan terima kasih pada teman-teman dari Dinas Intelijen yang lapang dada. Jadi tidak dipersulit, tidak ada pertanyaan-pertanyaan (yang buat) mules ya. Jadi betul-betul kita terima kasih kepada teman-teman dari Dinas Intel itu dan Pak Natsir kemudian pulang ke Jakarta, Mas Watik dan saya mendampingi beliau. Sampai sekarang itu jadi kenangan manis buat saya dan teman-teman,“ kata Pak Amien menutup ceritanya.[]
Nuim Hidayat






