Ketika Amien Rais Bicara tentang Kelebihan Pak Natsir
Amien Rais adalah salah satu tokoh politik Islam yang penting di negeri ini. Selain pernah menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, ia juga adalah tokoh utama di balik lengsernya Presiden Soeharto pada 1998. Pernah menjabat sebagai Ketua MPR RI dan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), kini ia menduduki kursi teratas Partai Ummat sebagai Ketua Majelis Syura.
Sehari-hari di samping banyak pengajian di masyarakat, Pak Amien juga sering membuat analisa-analisa politik lewat podcast-nya. Pendapat dan pemikiran-pemikirannya sering ditunggu masyarakat. Ribuan penonton mengunjungi podcast-nya tiap ia tampil.
Baru-baru ini ia tampil menceritakan pengalamannya dengan tokoh besar Islam Mohammad Natsir. Menurutnya, melihat carut-marut politik nasional kita di dekade ketiga abad ke-21 masehi sekarang ini ada baiknya direnungkan beberapa pemikiran dari salah satu pahlawan nasional kita yaitu Bapak Mohammad Natsir.
Pak Natsir lahir di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Solok, Sumbar pada 17 Juli 1908. Ia wafat pada 6 Februari 1993.
“Pak Natsir dikenal luas oleh bangsa Indonesia sebagai sosok pemimpin tiga dimensi, pemimpin politik yang piawai, ulama yang alim, dan tokoh nasional yang jadi panutan jutaan orang,” terang Amien dalam salah satu rekaman video siniarnya. Dimensi lainnya adalah pemimpin yang sampai akhir hayatnya tidak pernah tergiur oleh keduniaan.
“Nah, beliau pernah jadi Menteri Penerangan, kemudian jadi Perdana Menteri pertama di Indonesia pasca kemerdekaan di zaman Bung Karno. Sulit untuk dipercaya Pak Natsir seorang mantan Perdana Menteri tidak pernah punya rumah pribadi sampai akhir hayatnya,“ terang Amien.
Pak Amien punya pengalaman, pada 1970 ia diberi tugas oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah pergi ke Banjarmasin untuk memberikan ceramah di depan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM). AMM terdiri dari Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, IMM, IPM, dan Pandu Hizbul Wathan.
Di Banjarmasin itu ia bertemu dengan ulama besar Haji Ahmad Amin dan sahabat Pak Nasir di Partai Masyumi bernama Gus Muis. Pak Muis ini sempat bercerita pada Amien Rais. Ketika Pak Natsir jadi Perdana Menteri, Gus Muis kebetulan kehabisan bekal di Jakarta dan menemui Pak Natsir. “Apa kiranya bisa meminjami uang untuk membeli tiket pesawat Jakarta-Banjarmasin. Pak Natsir kurang lebih berkata, ‘Saudara Muis ini tanggal tua, saya belum gajian tetapi saya bisa ambilkan dari uang majalah Panji Masyarakat yang saya pimpin. Nanti saya telepon bendahara Panji Masyarakat,” cerita Pak Amien.
Menurut tokoh reformasi ini, cerita itu bagi kita sekarang ini seperti dongeng belaka. Tidak ada lagi di alam kenyataan orang yang seperti Pak Natsir itu. “Kini semua Menko, Wakil Menko, harta mereka melimpah ruah. Setiap menteri di zaman Pak Harto sampai sekarang banyak yang punya uang ratusan miliar bahkan sampai triliunan. Entah dari mana. Ada yang kebingungan cara menyimpan uangnya yang triliunan hasil korupsi itu sampai terpaksa memindahkan uangnya, untuk menghindari bayar pajak, ke Pandora dan Panama.”
Pak Amien melanjutkan ceritanya. Satu hari di tahun 1970, 56 tahun lalu, ia bersama almarhum Ir. AM Luthfi, almarhum Dr. Ahmad Pratiknya, dan almarhum Dr. Kuntowijoyo serta dan satu orang lagi mang Endang (Endang Saifuddin Anshari, red) dari Bandung bersilaturahim kepada Pak Natsir di Gedung Dakwah Islamiyah di Kramat Raya Jakarta.
“Pak Nasir pada pertemuan silaturahim itu berkata bahwa perjuangan amar makruf nahi mungkar itu pasti berdurasi panjang. Sangat panjang. Ibaratnya seperti orang berjalan kaki puluhan kilometer di jalan berkerikil, berbatu-batu, diselingi onak dan duri. Nah, dalam perjalanan panjang itu tidak semua lutut teman-teman kita sama kuatnya. Ada yang lemah, sedang-sedang saja, namun ada yang punya lutut sangat kuat. Jadi kalau ada teman pada kilometer ke-10 sudah undur diri, yang lain harus maklum, tidak perlu dicerca apalagi diejek. Dan semakin jauh perjalanan berarti semakin dekat ke tujuan, makin banyak juga teman yang pamit untuk tidak ikut meneruskan perjalanan panjang itu. Yang lututnya masih kuat, terus saja berjalan sampai ke tujuan walaupun terasa makin berat dan meletihkan. Prinsipnya jangan mengejek dan mencerca mereka yang berlutut lemah dan seterusnya. Cerita ini saya sampaikan pada mereka para mahasiswa, pemuda, para intelektual terkemuka seperti Rismon Sianipar, Roy Suryo, dokter Tifa, dan TPUA Tim Pembela Ulama dan aktivis yang yang kurang tidur karena berjuang untuk membuktikan ijazah Jokowi itu palsu. Kepalsuan ijazah itu adalah wajah asli pemiliknya, yang memang memiliki kepalsuan multidimensional dari kepribadiannya,“ kata Amien.
Pak Amien juga menceritakan, menurut Pak Natsir untuk mengenal seorang teman kadang dibutuhkan waktu tiga sampai lima tahun. “Mungkin sekali ada teman kita ibaratnya suka menggunting dalam lipatan atau juga seperti musang berbulu ayam,“ jelasnya.






