NUIM HIDAYAT

Ketika Guru Dihinakan

Di Tulungagung, siswa SMP mengantar jenazah gurunya sambil menangis dan membawa foto almarhum. Di Jember, ratusan siswa berdiri berbaris di depan sekolah memberi penghormatan terakhir saat ambulans jenazah melintas.

Di Bandung, ada murid SD yang setiap hari menunggu gurunya di gerbang sekolah, lalu membawakan tas sang guru. Ketika ditanya, ia menjawab polos: “Karena guru sudah seperti ibu kedua.”

Tentang memuliakan guru ini, para ulama menyatakan:

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin berkata, “Seorang murid wajib menghormati gurunya lebih daripada penghormatannya kepada kedua orang tuanya. Sebab kedua orang tua adalah sebab keberadaan dirinya di dunia, sedangkan guru adalah sebab keselamatan dirinya di akhirat.”

Imam Syafi’i dikenal dengan ungkapan, “Barang siapa tidak memuliakan guru dan tidak menjaga kehormatan ulama, maka ia tidak akan mendapatkan keberkahan ilmu.”

Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Aku mendoakan Imam Syafi’i dalam shalatku setiap hari selama 40 tahun.” Ia juga berkata, “Manusia lebih membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman, dan ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan adab.”

Syekh Abdul Qadir al-Jilani dalam Futuh al-Ghaib berkata, “Tidak akan memperoleh ilmu orang yang meremehkan guru atau mengangkat diri di atas gurunya.” []

Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.

Laman sebelumnya 1 2
BACA JUGA
Close
Back to top button