Kiat Budidaya Nila di Musim Penghujan: Atur Porsi Pakan dan Kelola Kualitas Air Kolam
Ada pola yang berulang hampir setiap akhir tahun di sentra budidaya nila. Catatan pakan masih sama, merek masih sama, takaran harian pun tidak diubah, tetapi bobot panen tidak setinggi siklus sebelumnya. Pembudidaya yang rajin menghitung biasanya menemukan angkanya di buku catatan, yaitu rasio konversi pakan yang merangkak dari 1,5 menjadi 1,7 atau bahkan menyentuh 1,9. Penyebabnya jarang terletak pada pakan itu sendiri. Yang berubah adalah cuaca, dan cuaca mengubah cara ikan makan.
Hujan deras menurunkan suhu air, kadang tiga sampai empat derajat dalam hitungan jam. Nila adalah hewan berdarah dingin, sehingga laju metabolismenya mengikuti suhu air. Ketika air mendingin, pencernaan melambat dan nafsu makan ikut turun. Masalahnya, jadwal pemberian pakan di lapangan biasanya tidak ikut menyesuaikan. Pelet tetap ditebar dalam jumlah yang sama, sebagian besar tidak termakan, lalu tenggelam dan membusuk di dasar kolam. Dari situ rangkaian masalah berikutnya dimulai.
Pakan yang membusuk melepaskan amonia. Pada saat yang sama, langit mendung sepanjang hari menekan fotosintesis plankton, sehingga pasokan oksigen di siang hari jauh berkurang dibanding hari cerah. Ikan yang kekurangan oksigen akan semakin enggan makan, dan lingkaran itu berputar semakin cepat. Banyak pembudidaya menyalahkan kualitas pakan ketika FCR memburuk di musim hujan, padahal yang terjadi adalah pakan yang baik diberikan pada waktu yang salah.
Penyesuaian pertama yang paling berdampak adalah mengurangi ransum harian ketika suhu turun. Patokan praktis yang banyak dipakai adalah memangkas porsi sekitar dua puluh sampai tiga puluh persen pada hari hujan deras, lalu mengembalikannya bertahap setelah cuaca stabil dua hari berturut-turut. Pemangkasan ini terasa tidak nyaman karena seolah menghambat pertumbuhan, padahal justru sebaliknya. Pakan yang tidak termakan tidak pernah berubah menjadi daging, hanya menjadi limbah yang menggerus oksigen.
Penyesuaian kedua menyangkut jam pemberian. Di musim hujan, jendela waktu ketika oksigen terlarut berada di titik tertinggi menjadi lebih sempit dan bergeser. Pada hari cerah, puncak oksigen umumnya terjadi menjelang sore setelah plankton bekerja seharian. Pada hari mendung, puncak itu bisa tidak pernah benar-benar datang. Mengamati respons ikan selama lima belas menit pertama setiap pemberian jauh lebih berguna daripada berpegang pada jadwal yang dibuat di musim kemarau. Jika ikan menyambar lambat atau pelet masih mengambang setelah sepuluh menit, hentikan dan catat.
Hal ketiga yang sering terlewat adalah kondisi pakan di gudang. Kelembapan udara di musim hujan membuat pelet menyerap air, menjadi lembek, dan kehilangan daya apung. Pelet seperti ini tenggelam lebih cepat sebelum sempat dimakan, dan dalam dua sampai tiga minggu berisiko ditumbuhi jamur. Menyimpan karung di atas palet kayu setinggi minimal sepuluh sentimeter, menjauhkannya dari dinding, dan membatasi stok hanya untuk kebutuhan dua minggu adalah kebiasaan murah yang menyelamatkan banyak kerugian.
Kecocokan antara jenis pakan dan fase ikan juga semakin menentukan ketika kondisi lingkungan sedang menekan. Pada fase benih, pakan starter berprotein tinggi seperti PA GOLD dengan kandungan protein 40 persen dan serat kasar 3 persen membantu pembentukan jaringan tubuh awal sekaligus menjaga tingkat kelangsungan hidup, dan ukuran butirannya sesuai bukaan mulut benih sehingga tidak terbuang. Memasuki fase grower, STP NGA 10 dengan protein 32 persen diarahkan untuk mempercepat pertumbuhan sekaligus mendukung penyerapan fosforus yang lebih baik, dan hal terakhir itu berarti limbah fosfor yang masuk ke air lebih sedikit. Di musim hujan, ketika kemampuan kolam memulihkan diri sedang menurun, selisih kecil pada beban limbah terasa nyata.
Satu kebiasaan terakhir yang membedakan pembudidaya yang bertahan dengan FCR stabil adalah sampling. Menimbang dua puluh sampai tiga puluh ekor secara acak setiap sepuluh hingga empat belas hari memungkinkan ransum dihitung ulang mengikuti biomassa terbaru. Tanpa itu, takaran pakan di musim hujan hampir selalu meleset, karena pertumbuhan melambat sementara perhitungan masih memakai asumsi laju tumbuh musim kemarau. Buku catatan sederhana berisi tanggal, suhu pagi, jumlah pakan, dan hasil sampling sudah cukup untuk menunjukkan di titik mana efisiensi mulai bocor.
Musim hujan tidak bisa dilawan, tetapi dampaknya pada biaya pakan bisa ditekan dengan penyesuaian yang sebenarnya sederhana, yaitu porsi yang mengikuti suhu, jam pemberian yang mengikuti oksigen, penyimpanan yang menjaga mutu pelet, dan pakan yang cocok dengan fase ikan. Rangkaian pakan ikan nila dari STP Aquaculture disusun mengikuti kebutuhan tiap fase, dari starter PA GOLD sampai pakan pembesaran, sehingga peralihan antarfase tidak mengejutkan pencernaan ikan. Sebelum musim hujan mencapai puncaknya, luangkan waktu mencocokkan ukuran dan jenis pakan di gudang Anda dengan fase ikan yang sedang dipelihara, karena penyesuaian yang dilakukan sebelum hujan turun selalu lebih murah daripada memperbaiki FCR yang sudah terlanjur naik.[]






