Kisah Nasuha: Dari Dosa ke Taubat Sejati
Kini, ketika kata “taubat nasuha” diucapkan dalam khutbah dan pengajian, sebagian orang mungkin tak tahu bahwa di baliknya tersembunyi kisah seorang manusia biasa yang menyesal di kamar mandi tua. Tapi justru di situ letak kekuatannya—karena taubat tidak selalu terjadi di masjid, kadang terjadi di ruang-ruang kecil, di tengah ketakutan dan rasa malu yang menyesakkan.
Kisah ini menyentuh karena mengandung paradoks yang paling manusiawi: bahwa rasa bersalah bisa menjadi pintu rahmat, dan bahwa kejatuhan bisa menjadi awal dari kebangkitan. Nasuha jatuh karena tipuannya sendiri, tapi di dasar kejatuhan itu ia menemukan Tuhan.
Dalam dunia yang serba cepat hari ini, di mana kesalahan sering dibalas dengan penghakiman tanpa ampun, kisah seperti ini terasa menenangkan. Ia mengingatkan bahwa setiap manusia masih mungkin berubah, bahwa tidak ada yang terlalu kotor untuk dibersihkan, asalkan kemauan itu datang dari hati yang paling jujur.
Mungkin itu sebabnya, dalam bahasa tafsir, taubat nasuha disebut “taubat yang menasihati diri sendiri”—taubat yang membuat seseorang malu mengulang dosa karena telah melihat kebenaran dalam dirinya.
Jika kelak nama Nasuha disebut dalam majelis, jangan bayangkan ia nabi atau orang suci. Ia hanyalah manusia biasa yang pernah tersesat, lalu berani menatap dirinya sendiri. Dan barangkali, itulah bentuk kesucian yang paling tinggi. []
Muhibbullah Azfa Manik






