Kisah Nasuha: Dari Dosa ke Taubat Sejati
Di sebuah kota kecil di masa lampau, ketika rumah-rumah mandi masih menjadi tempat perempuan mencari ketenangan, bekerja seorang lelaki bernama Nasuha. Tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya.
Sejak lama, ia hidup di bawah samaran: berpakaian seperti perempuan, berbicara dengan nada lembut, dan menundukkan pandangan setiap kali pelanggan datang. Di matanya tersimpan rahasia kelam—ia bukan perempuan, melainkan seorang laki-laki yang menyamar demi pekerjaan dan nafsu tersembunyi.
Hari-harinya dihabiskan di antara kepulan uap air dan aroma minyak bunga. Di balik tirai kain, ia melihat banyak tubuh, wajah, mendengar tawa, bahkan percakapan paling pribadi. Lama-kelamaan, rasa bersalah itu menumpuk seperti kabut yang enggan sirna. Namun setiap kali hatinya berbisik untuk berhenti, suara lain berbisik lebih keras: “Kau butuh uang. Lagi pula, siapa yang tahu?”
Kisah Nasuha tidak ditemukan dalam kitab suci. Ia hidup dalam kisah-kisah tua, dalam tafsir dan riwayat Israiliyat yang menelusup di antara lembar-lembar kitab para sufi. Namun nama itu hidup karena maknanya. Dalam bahasa Arab, “nasūḥā” berarti tulus, murni, dan tidak kembali pada dosa. Maka ketika Al-Qur’an menyeru, “Tūbū ilallāhi taubatan nasūḥā”—bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya—para mufasir kemudian menghadirkan figur bernama Nasuha sebagai jelmaan dari kalimat itu.
Suatu sore yang tenang, ketika matahari mulai turun di balik menara, seorang perempuan bangsawan datang ke rumah pemandian itu. Di antara kilau perhiasannya, ada seuntai kalung mutiara yang menjadi kebanggaan keluarga. Usai mandi, kalung itu lenyap. Kecurigaan pun merebak, dan semua yang ada di dalam rumah mandi diperiksa. Tak seorang pun dikecualikan—termasuk Nasuha.
Ia pucat pasi. Seketika ia sadar, jika tubuhnya diperiksa, penyamarannya akan terbongkar. Panik, ia berlari ke kamar belakang, menutup pintu rapat-rapat, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menipu dunia, ia menangis. Bukan tangis ketakutan, melainkan tangis penyesalan yang datang begitu dalam.
Dalam tangis itu ia berdoa, dengan suara nyaris tak terdengar: “Ya Allah, Engkau tahu siapa aku sebenarnya. Aku berdosa pada-Mu, pada mereka yang telah kutipu, pada diriku sendiri. Jika Engkau masih mau menerima taubatku, selamatkan aku hari ini, dan aku bersumpah tak akan kembali pada jalan ini.”
Dalam sunyi yang berat, ia merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan—semacam kelegaan, seolah beban bertahun-tahun tiba-tiba diangkat dari dadanya. Ia bangkit, lalu keluar dengan langkah gemetar, siap menghadapi takdir apa pun yang menantinya.
Saat itu pula terdengar suara dari luar: perhiasan yang hilang telah ditemukan di tempat lain. Nasuha terbebas dari tuduhan. Namun di dalam dirinya, ada yang berubah selamanya. Hari itu ia benar-benar berhenti. Ia meninggalkan pekerjaannya, meninggalkan penyamarannya, meninggalkan seluruh masa lalunya yang busuk. Ia memilih hidup sederhana, menjadi seorang ahli ibadah yang tak dikenal, menjalani hari-harinya dengan air mata penyesalan yang pelan-pelan berubah menjadi ketenangan.
Para ulama yang menulis kisah ini tidak berniat mencatat sejarah, melainkan menyampaikan makna. Kisah Nasuha bukan biografi, melainkan alegori—tentang manusia yang mampu berbalik arah di titik terendah hidupnya. Tentang bagaimana taubat yang sejati bukan sekadar ucapan, tetapi keputusan untuk tidak lagi menoleh ke belakang.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menyebut taubat sebagai “gerak hati yang muncul karena sadar akan jarak antara dirinya dan Allah.” Sementara Al-Qurthubi menulis, “taubat nasuha adalah taubat yang tidak mengandung niat untuk kembali kepada dosa.” Nasuha, dalam makna simbolik, menjadi cermin bagi ayat itu: seorang manusia yang mengubah hidupnya total karena kejujuran penyesalannya.
Barangkali karena itu, kisah Nasuha tetap bertahan dalam khazanah Islam klasik—bukan karena validitas sejarahnya, melainkan karena daya getar spiritualnya. Ia mengingatkan bahwa kesucian tidak lahir dari ketiadaan dosa, melainkan dari keberanian untuk mengakuinya. Dalam setiap diri manusia, ada jejak Nasuha: sisi gelap yang menipu, lalu keinginan untuk kembali bersih.






