#Perang Iran vs AS-IsraelOPINI

Kontradiksi di Balik Retorika Netanyahu

Oleh: Yanuardi Syukur, Dosen Antropologi Universitas Khairun, Ternate.

“The Ayatollah is no more, and I know you don’t want him replaced with another tyrant. So you must act. We are creating the conditions for you to do so.”

(Ayatollah telah tiada, dan aku tahu kalian tidak ingin ia digantikan oleh tiran lain. Jadi kalian harus bertindak. Kami sedang menciptakan kondisi bagi kalian untuk melakukannya).

Demikian bunyi unggahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di X pada 11 Maret 2026, sebagaimana dilaporkan BBC. Pesan yang ditujukan kepada “rakyat Iran” ini menyerukan penggulingan rezim Ayatollah dan menyatakan bahwa Israel akan “menyerahkan obor” kepada mereka pada waktu yang tepat.

Seruan Netanyahu ini muncul di saat Iran baru saja menunjuk pemimpin tertinggi baru. Farnaz Fassihi dalam tulisannya di New York Times (8 Maret 2026) mengungkapkan bahwa Mojtaba Khamenei, putra kedua mendiang Ayatollah Ali Khamenei, dipilih oleh Majelis Pakar yang beranggotakan 88 ulama senior sebagai penerus. Seorang figur misterius yang selama ini bekerja di balik layar sebagai koordinator operasi militer dan intelijen di kantor ayahnya, dan memiliki hubungan erat dengan Garda Revolusi.

Pernyataan Netanyahu di atas mengandung kontradiksi mendasar. Ia berbicara tentang penghormatan terhadap kedaulatan rakyat Iran, namun menawarkan intervensi asing untuk “menciptakan kondisi” perubahan rezim. Tentu saja tidak mungkin menghormati kedaulatan sambil mendorong penggulingan pemerintah yang sah.

Pelapor Khusus PBB Ben Saul telah menyatakan bahwa serangan awal AS-Israel terhadap Iran merupakan pelanggaran Piagam PBB. Seruan Netanyahu mempertegas bahwa tujuan perang ini bukan sekadar melumpuhkan kemampuan militer, melainkan mengubah rezim.

Pesan ini mengasumsikan rakyat Iran bersatu menolak kepemimpinan baru mereka. Realitas lebih kompleks. Fassihi mencatat bahwa meskipun Ayatollah Ali Khamenei sempat menyatakan kepada para penasihatnya bahwa ia tidak ingin putranya menggantikannya agar kepemimpinan tidak menjadi turun-temurun—sebuah ironi mengingat revolusi 1979 menjanjikan pengakhiran monarki—para elit kekuasaan justru memilih Mojtaba.

Mehdi Rahmati, analis di Teheran, menyatakan bahwa “Mojtaba adalah pilihan paling bijaksana saat ini karena ia sangat memahami cara menjalankan dan mengoordinasikan aparat keamanan dan militer.”

Hal kontradiksi lainnya dari Netanyahu adalah bahwa ia menyerukan penggulingan tiran, sementara kebijakan Israel di wilayah pendudukan terus menuai kecaman internasional. Mereka mempraktikkan tindakan tirani secara bertahun-tahun. Mereka tidak hanya tirani tapi juga melakukan genosida secara sistematis.

Laporan-laporan PBB tentang pelanggaran hak asasi manusia di Tepi Barat dan Gaza masih terus berlangsung. Seruan Netanyahu kepada rakyat Iran tentang kebebasan sangat tidak mungkin diterima. Strategi itu pun tidak ampuh untuk ‘menggerakkan rakyat Iran untuk melawan pemerintahnya.’

Narasi yang hendak ‘mengambil hati rakyat’ tersebut dapat menjadi justifikasi untuk eskalasi tanpa batas. Jika tujuan perang didefinisikan sebagai membantu rakyat Iran “menggenggam takdir mereka,” tidak ada parameter jelas kapan operasi militer harus dihentikan. Perlawanan Iran akan selalu dapat dibingkai sebagai penindasan terhadap kehendak rakyat. Ini memberikan lisensi moral untuk perang berkepanjangan.

Sejumlah analis berpendapat bahwa Mojtaba mungkin lebih pragmatis dibanding ayahnya. Abdolreza Davari, seorang politisi dekat dengan Khamenei, menyatakan bahwa “Jika ada seseorang yang dapat bergerak menuju semacam de-eskalasi dengan Amerika Serikat, itu adalah dia.” Tapi sejauh ini, Iran tidak punya opsi diplomasi, sebab mereka ‘telah berkali-kali dikhianati oleh Amerika.’

Konflik yang terjadi sekarang ini telah menewaskan lebih dari 1.250 orang di Iran, menurut laporan Anadolu Agency, termasuk pemimpin tertinggi, keluarganya, dan 150 siswi. Ketika senjata berbicara, rakyat biasa selalu menjadi pihak yang paling menderita. Adapun pernyataan Netanyahu tidak akan memberi pengaruh apa-apa, ibaratnya seperti berteriak di gunung pasir yang luas. Tidak ada yang mendengar.[]

Back to top button