IBRAH

Kritik terhadap Penguasa di Era Umar bin Khathab

Beliau justru menyambutnya dengan penuh sukacita karena beliau akan mendapatkan bantuan untuk menegakkan kebenaran jika beliau memang benar, atau mendapatkan petunjuk menuju jalan yang lurus jika beliau ternyata salah. Beliau membebaskan orang yang menentangnya tersebut untuk memilih sendiri siapa penengah yang diinginkan agar mereka bisa mendatangi orang itu untuk memutus perkara di antara keduanya.

Suatu hari Umar bertemu dengan Al-Abbas dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum wafat menyampaikan keinginan untuk memperluas area masjid. Karena rumahmu berada dekat dengan masjid, maka serahkanlah rumahmu itu kepada kami agar kami dapat menggabungkannya untuk perluasan, dan sebagai gantinya aku akan memberimu rumah lain yang jauh lebih luas.”

Al-Abbas menjawab, “Aku tidak akan melakukannya.” Umar berkata, “Jika begitu, aku akan mengambilnya secara paksa darimu.”

Al-Abbas menimpali, “Engkau tidak berhak melakukan hal itu! Maka dari itu, tetapkanlah seorang hakim penengah di antara aku dan engkau yang akan memutus perkara ini dengan adil.”

Amirulmukminin bertanya, “Siapa yang engkau pilih?” Al-Abbas menjawab, “Huzaifah bin al-Yaman.”

Umar dan Al-Abbas lantas pergi bersama-sama menemui Huzaifah. Keduanya duduk di hadapan Huzaifah untuk menceritakan perselisihan yang terjadi di antara mereka sekaligus meminta keputusan hukum darinya.

Huzaifah memulai putusannya dengan berkata, “Aku pernah mendengar sebuah riwayat bahwa Nabi Allah, Daud Alaihis salam, bersama sebagian sahabatnya berniat untuk memperluas Baitulmaqdis. Mereka menemukan sebuah rumah di dekat masjid yang ternyata milik seorang anak yatim, namun ketika mereka memintanya, anak tersebut menolak. Nabi Daud kemudian berniat untuk mengambil rumah itu secara paksa, lalu Allah menurunkan wahyu kepadanya: ‘Sesungguhnya rumah yang harus paling jauh dari tindakan kezaliman adalah rumah-Ku.’ Maka Nabi Daud pun mengurungkan niatnya dan membiarkan rumah itu tetap berada di tangan pemilik sahnya.”

Mendengar kisah tersebut, Al-Abbas menatap Umar dan bertanya, “Apakah engkau masih tetap ingin merebut rumahku secara paksa?” Umar menjawab, “Tidak.”

Al-Abbas lalu berkata, “Meskipun demikian, sekarang dengan sukarela kuberikan rumah tersebut kepadamu agar engkau dapat menjadikannya sebagai bagian dari perluasan Masjid Rasulullah.”

Inilah bukti nyata dari keagungan sifat Umar. Sebuah keagungan dari sosok pemimpin yang senantiasa mendoakan rahmat bagi siapa saja yang sudi menunjukkan kekeliruan kepadanya; bagi orang yang berani berkata kepadanya, “Tidak, wahai Umar…”

Semoga Allah senantiasa melimpahkan berkah-Nya kepada Amirulmukminin, serta salam penghormatan yang indah bagi ajaran agama Islam mulia yang telah mendidik karakter agungnya.[]

Sumber: Baina Yadai Umar, karya Khalid Muhammad Khalid (dengan adaptasi)

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button