Kritik terhadap Penguasa di Era Umar bin Khathab
Musyawarah dan adanya oposisi (kritik) di masa Amirulmukminin Umar bin al-Khattab merupakan fondasi dari pemerintahan yang baik.
Oleh karena itu, tidak lama setelah beliau menjabat sebagai khalifah dan mendengar pembicaraan orang-orang mengenai ketegasannya, beliau langsung menyendiri untuk merenung.
Kemudian Huzaifah—yang merupakan salah seorang sahabatnya—masuk menemui beliau dan mendapatinya sedang bersedih hingga meneteskan air mata. Huzaifah pun bertanya, “Ada apa, wahai Amirulmukminin?”
Umar menjawab, “Sesungguhnya aku takut jika aku berbuat salah, lalu tidak ada satu pun dari kalian yang berani mengingatkanku karena sungkan atau demi menghormatiku.” Huzaifah langsung menimpali, “Demi Allah, jika kami melihatmu keluar dari kebenaran, niscaya kami pasti akan meluruskanmu kembali kepada kebenaran itu.”
Mendengar hal tersebut, Umar merasa sangat gembira dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberiku para sahabat yang bersedia meluruskan jalanku apabila aku mulai bengkok.”
Pada hari yang lain, Umar naik ke atas mimbar untuk menyampaikan suatu perkara penting kepada kaum muslim. Beliau memulai khotbahnya setelah memuji Allah dengan berseru, “Dengarkanlah, semoga Allah merahmati kalian.”
Namun, salah seorang jemaah muslim tiba-tiba bangkit berdiri dan menyela, “Demi Allah, kami tidak mau mendengar! Demi Allah, kami tidak mau mendengar!” Umar bertanya dengan penuh ketenangan, “Mengapa demikian, wahai Salman?”
Salman menjawab, “Engkau telah mengistimewakan dirimu sendiri di atas kami dalam urusan dunia. Engkau membagikan satu potong kain kepada setiap orang dari kami, sementara engkau sendiri mengambil dua potong kain.”
Sang khalifah lantas melihat ke arah barisan jemaah kemudian berseru, “Di mana Abdullah bin Umar?” Putra beliau, Abdullah, segera bangkit dan menyahut, “Saya di sini, wahai Amirulmukminin.”
Umar bertanya, “Siapakah pemilik kain yang kedua itu?” Abdullah menjawab, “Saya, wahai Amirulmukminin.”
Umar kemudian berbicara kepada Salman dan jemaah yang hadir, “Sesungguhnya, sebagaimana yang kalian ketahui, aku adalah seorang pria yang bertubuh tinggi besar. Kain jatahku datang dalam ukuran yang pendek, lalu Abdullah memberikan kain jatah miliknya kepadaku agar aku dapat memperpanjang pakaianku ini.”
Mendengar penjelasan tersebut, air mata kebahagiaan seketika berlinang di kedua mata Salman, lalu ia berseru, “Segala puji bagi Allah! Sekarang silakan berbicara, kami siap mendengar dan menaati perintahmu, wahai Amirulmukminin.”
Bagi Umar, kebenaran mutlak adalah otoritas tertinggi yang berada di atas segala-galanya. Apabila beliau menetapkan suatu keputusan hukum lalu ditentang oleh warganya, dan orang tersebut berkata kepada sang khalifah yang adil, “Biarlah orang lain yang menjadi hakim penengah di antara aku dan engkau,” maka Umar tidak akan marah ataupun menolak.






