OASE

Lima Pelajaran di Balik Ibadah Haji

Pelajaran kedua adalah mengenai urgensi membangun peradaban Islam dari titik nol. Kalimat “biwadin ghairi dzi zar’in” (di lembah yang tidak bertanaman) menggambarkan kondisi geografis Makkah yang sangat tandus pada masa itu.

Namun, justru dari tempat yang tampak mustahil secara nalar manusia itulah lahir pusat peradaban Islam terbesar di dunia.

Hal ini menunjukkan bahwa membangun peradaban mulia tidak selalu harus dimulai dari tempat yang sudah ideal.

Dengan visi besar, doa yang kuat, dan kerja keras, tanah tandus pun bisa diubah menjadi pusat peradaban yang diberkahi. Nabi Ibrahim a.s. berdoa agar Makkah menjadi negeri yang aman dan dijauhkan dari segala bentuk kesyirikan.

Hari ini doa tersebut menjadi nyata karena Makkah telah bertransformasi menjadi kota suci yang dicintai oleh miliaran manusia.

Pelajaran ketiga adalah pentingnya menjadikan pendidikan agama sebagai fondasi utama dalam kehidupan.

Dalam ayat tersebut, Allah Swt. menyebutkan tujuan utama penempatan keluarga Ibrahim di dekat Baitullah adalah “liyuqimush shalah” yang berarti agar mereka mendirikan salat.

Ini menegaskan secara lugas bahwa inti dari pembangunan umat bukan sekadar pembangunan fisik atau ekonomi, melainkan pembangunan rohani.

Salat merupakan fondasi utama pendidikan Islam, benteng akidah, sekaligus penjaga akhlak manusia.

Jika ibadah salat ditegakkan dengan benar, kehidupan manusia pasti akan menjadi terarah.

Di era modern saat ini, “berhala” tidak lagi selalu berbentuk patung, melainkan bisa berupa harta, jabatan, popularitas, atau kecintaan dunia yang berlebihan hingga melalaikan Allah Swt.

Karena itu, pendidikan iman harus terus diperkuat secara masif agar generasi Islam tidak kehilangan arah di tengah zaman.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button