Lima Pelajaran di Balik Ibadah Haji
Allah Swt. berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 37:
رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِي_ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati. Ya Tuhan kami, agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka, dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim: 37)
Ayat ini bukan sekadar doa Nabi Ibrahim a.s., tetapi juga menyimpan pelajaran besar tentang makna ibadah haji dan nilai-nilai kehidupan yang sangat relevan bagi umat Islam sepanjang zaman.
Dari ayat ini, setidaknya terdapat lima pelajaran penting yang dapat menjadi bekal spiritual dan sosial bagi kaum muslimin.
Pelajaran pertama adalah tentang membangun keluarga sakinah yang berasaskan syariat dan keikhlasan.
Kalimat “inni askantu” (aku telah menempatkan) mengandung makna mendalam tentang tanggung jawab sebuah keluarga.
Nabi Ibrahim a.s. diperintahkan oleh Allah Swt. untuk meninggalkan Siti Hajar dan bayi Ismail di lembah tandus Makkah tanpa air, tanpa tanaman, dan tanpa adanya tanda kehidupan.
Secara manusiawi, perintah ini tentu terasa sangat berat, namun Nabi Ibrahim a.s. tetap melaksanakannya dengan penuh ketaatan.
Ketika Siti Hajar bertanya, “Apakah ini perintah Allah?” dan Ibrahim menjawab “Ya,” maka dengan penuh keyakinan wanita mulia itu berkata, “Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Inilah puncak tawakal yang sesungguhnya dalam rumah tangga, di mana kepatuhan total kepada Allah Swt. akan melahirkan ketenangan batin yang sejati.
Dari kisah agung ini kita belajar bahwa keluarga sakinah tidak dibangun di atas kemewahan materi, melainkan di atas fondasi iman, keikhlasan, dan kepatuhan mutlak kepada Allah Swt.
Suami dan istri yang sama-sama berjuang lillahi ta’ala tidak akan pernah disia-siakan oleh Allah Swt.






