#Perang Iran vs AS-IsraelOPINI

LUCAS vs Shahed, Amerika Tiru ‘Senjata Miskin’ Iran

Oleh: Yanuardi Syukur, Pengajar Diplomasi Kebudayaan di Universitas Khairun, Ternate.

Ada ironi yang tak terbantahkan dalam perang Iran 2026. Amerika Serikat, dengan anggaran pertahanan $900 miliar (Rp15.259,5 Triliun) dan teknologi militer paling canggih di dunia, kini sibuk memproduksi tiruan drone murah buatan Iran.

LUCAS Low-cost Uncrewed Combat Attack System) lahir dari rekayasa balik Shahed 136, drone “kamikaze” (bunuh diri) yang selama ini dipandang rendah oleh Pentagon.

Jonathan Benton di Euro News (15 Maret 2026) melaporkan bahwa drone ini kini diterjunkan untuk menyerang Iran dengan harga hanya $35.000 (Rp593.155.500) per unit. Ini adalah sebuah pengakuan diam-diam bahwa adidaya pun bisa dipaksa belajar dari yang lemah.

Shahed, yang dalam bahasa Persia dan Arab berarti “saksi,” telah menjadi saksi bisu atas perubahan wajah perang modern. Dikembangkan oleh Shahed Aviation Industries sejak 2016, drone ini awalnya dirancang sebagai ‘jawaban Iran atas sanksi dan keterbatasan militer.’ Namun siapa sangka, teknologi “sederhana” ini kini ditiru oleh negara dengan anggaran pertahanan terbesar di dunia.

Ironi Strategis

SpektreWorks, perusahaan Arizona yang mengembangkan LUCAS, tidak menciptakan teknologi baru. Mereka mereplikasi apa yang sudah Iran buat sejak 2016. Drone Shahed 136, yang menjadi inspirasi LUCAS, adalah bukti kecerdikan Iran dalam menghadapi keterbatasan. Sebelum menyerang Iran, AS sebenarnya telah produksi dan menggunakan drone tersebut akan tetapi hanya puluhan unit.

Dengan mesin kecil berpendingin udara, bahan bakar bensin, dan komponen komersial yang mudah didapat dari berbagai negara—termasuk AS, Swiss, dan Jepang—drone ini dirancang untuk satu tujuan, yaitu meledak.

Sederhana, murah, dan mematikan.

Setiap unit Shahed 136 diperkirakan hanya menelan biaya antara $20.000 (Rp 338.946.000) hingga $50.000 (Rp 847.365.000) yang secara faktual ternyata mampu melumpuhkan rudal Patriot yang mahal ($4 juta per peluncuran).

Satu hal menarik, AS sebelumnya memandang rendah drone semacam ini. Mereka mengandalkan teknologi tinggi, rudal presisi, dan dominasi udara. Namun perang Ukraina membuktikan bahwa gelombang drone murah bisa melumpuhkan pertahanan termahal sekalipun. Serangan Iran ke fasilitas minyak Arab Saudi juga menunjukkan bahwa pertahanan udara berlapis pun bisa kewalahan.

Para ahli di Center for Strategic and International Studies (CSIS) mencatat bahwa pengerahan drone murah dalam jumlah besar dapat membanjiri pertahanan udara, mengubah dinamika finansial perang modern. Maka per Maret 2026 ini, lahirlah LUCAS, dan Pentagon bahkan menargetkan produksi 300.000 unit.

Humanisme Palsu

Antropolog Hugh Gusterson, dalam studi tentang perang drone di Waziristan (Current Anthropology, 2019), mengingatkan bahaya klaim bahwa drone lebih manusiawi karena presisinya. Ia menyebutnya “drone essentialism”, yakni keyakinan keliru bahwa teknologi secara inheren menentukan penggunaan etisnya.

Pejabat AS pun dengan bangga menyebut LUCAS sebagai senjata efektif dan moral, mengulang narasi yang sama ketika memperkenalkan drone Predator (drone pemburu-penyerang pertama di dunia sejak 1994, menjangkau 740 km) dan Reaper (drone ‘malaikat maut’ sejak 2007) sebelumnya.

Namun sejarah menunjukkan bahwa Shahed 136, yang menjadi cikal bakal LUCAS, telah menimbulkan korban sipil yang signifikan di Ukraina sebagai konsekuensi dari perang. Serangan menggunakan drone ini pada 17 Oktober 2022 menewaskan empat warga sipil di Kyiv, termasuk seorang wanita hamil enam bulan. Pada 17 Mei 2025, serangan Shahed di Ukraina menewaskan sedikitnya 13 warga sipil dan melukai 32 lainnya. Ini membuktikan bahwa klaim tentang “presisi” seringkali hanya retorika.

1 2Laman berikutnya
Back to top button