LUCAS vs Shahed, Amerika Tiru ‘Senjata Miskin’ Iran
Gusterson menunjukkan bahwa protokol penargetan yang longgar menciptakan “ethical slippage”—pergeseran etis yang membuat drone menjadi senjata teror. Di Waziristan, Pakistan, drone tidak hanya membunuh militan, tetapi juga menciptakan budaya teror yang melumpuhkan masyarakat.
Seorang pemuka suku Waziristan berkata, “Drone mungkin membunuh sedikit, tetapi mereka meneror lebih banyak lagi. Mereka mengubah orang menjadi pasien jiwa.” LUCAS, meskipun lebih murah, tetap membawa masalah etis yang sama. Klaim tentang “perang manusiawi” tetap menjadi wacana yang memungkinkan negara melakukan kekerasan sambil mengklaim moralitas tinggi.
Teror dari Atas
Gusterson membandingkan efek psikologis drone dengan teror regu kematian di Amerika Latin pada 1980-an. Ia mengutip konsep “fear as a way of life” dari antropolog Linda Green, yakni ‘ketakutan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.’
Di Waziristan, drone berputar berjam-jam, bahkan berhari-hari, sebelum menyerang. Dengungan mesin menjadi pengingat konstan akan kematian. David Rohde, jurnalis New York Times yang pernah disandera di Waziristan, menggambarkan bagaimana “dengungan baling-baling dari kejauhan adalah pengingat konstan akan kematian yang akan datang.”
Pengalaman serupa dialami warga Ukraina yang hidup di bawah ancaman Shahed. Data Ukraina mencatat lebih dari 38.000 drone Shahed diluncurkan Rusia sepanjang 2025, dengan 5.000 di antaranya hanya pada bulan September. Serangan terhadap infrastruktur dan area sipil telah mengakibatkan ribuan korban jiwa. Setiap dengungan mesin di langit malam bisa berarti kematian yang akan datang, apalagi jika terlambat berlindung di shelter.
Anak-anak menjadi histeris saat mendengar suara drone. Orang dewasa mengalami gangguan tidur, mimpi buruk berulang, dan serangan kecemasan. Masyarakat hidup dalam “pemenjaraan psikis”, yaitu ketakutan yang melumpuhkan seluruh komunitas. Tapi, waktu saya berkunjung ke Ukraina akhir 2023, hampir tiap hari mereka diserang drone Shahed, akhirnya kemudian jadi terbiasa (bahkan terkadang mereka tidak ke shelter untuk berlindung). Di Iran, pola yang sama kemungkinan terulang.
Pada akhirnya, LUCAS adalah pengakuan diam-diam bahwa adidaya pun bisa dipaksa belajar dari yang lemah. Kita sebenarnya tidak ingin ada senjata perang yang dapat menghancurkan manusia.
Tapi, memang ironis, kita ingin menciptakan dunia yang damai, tapi entah kenapa perang selalu hadir. Mungkin memang benar kata pepatah Latin klasik: “si vis pacem, para bellum” (jika kamu ingin damai, bersiaplah untuk perang).[]






