Mahasiswa India Patahkan Citra ‘Tak Terkalahkan’ Modi?
Mundurnya menteri pendidikan menjadi kekalahan politik yang jarang terjadi bagi Modi, sosok yang otoritasnya dibangun di atas citra seorang pemimpin yang tidak pernah tunduk pada tekanan.
Bahkan Ratan Sharda dari Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS)—organisasi induk dari partai berkuasa BJP yang menaungi Modi—secara terbuka mengkritik tim media dan komunikasi partainya sendiri di platform X. Ia menuduh mereka melakukan “kegagalan spektakuler” dan ketidakmampuan total dalam membalas narasi protes.
Tanda paling jelas dari apa yang telah berubah mungkin bukanlah pengunduran diri itu sendiri, melainkan kata-kata yang diucapkan di jalanan sebelumnya. Setelah 12 tahun, satu bulan, dan 24 hari sejak Narendra Modi dilantik, kata-kata “Modi must resign” diucapkan secara lantang tanpa rasa takut untuk pertama kalinya, di hadapan para saksi dan kamera di jalanan ibu kota negara, sebagaimana dicatat oleh Al Jazeera.
Rasa takut tersebut telah berganti posisi. Bukan lagi para demonstran yang takut kepada pemerintah, melainkan pemerintah yang mulai takut kepada para demonstran.
Rahul Gandhi, pemimpin oposisi dari Partai Kongres yang sempat ditahan saat memimpin pawai menuju kediaman Modi pekan lalu, menyampaikan tantangan langsung setelah pengunduran diri Pradhan. Ia menegaskan bahwa pihak yang memerintahkan polisi untuk memukuli mahasiswa “harus bertanggung jawab”, dan Modi harus meminta maaf secara pribadi.
Belum ada permintaan maaf yang disampaikan hingga saat ini. Menteri pendidikan tersebut kini telah mundur.
Namun, sesuatu telah bergeser dalam atmosfer politik India yang tidak dapat dipulihkan dengan mudah.
Generasi yang tumbuh dengan doktrin bahwa Modi tidak pernah tunduk kini telah menyaksikan sendiri sang perdana menteri tunduk pada tekanan. []
Sumber: TRT World & Agensi






