Main Gawai Berlebih Hambat Perkembangan Otak Anak
Pelepasan dopamin yang melonjak saat anak ingin bermain gawai membuat mereka kurang tertarik melakukan aktivitas lain yang membutuhkan usaha lebih besar.
Amanda membeberkan hasil studi pemindaian otak pada remaja yang kecanduan gawai menunjukkan adanya penyusutan pada area memori, emosi, koordinasi motorik, dan pengambilan keputusan.
Meskipun kondisi tersebut bisa diperbaiki, proses pemulihannya tidak akan semudah dan sepesat jika dilakukan pada masa periode emas.
“Kalau ditanya bisa tidak dikembalikan (seperti semula)? Bisa, tapi lagi-lagi, kalau sudah lewat dari usia (2-3 tahun) ini untuk dikembalikannya tidak semudah dan sepesat pada usia itu,” tambah Amanda.
Kecanduan gawai pada anak umumnya ditandai dengan penurunan fungsi akademik, gangguan pergaulan sosial, serta kecenderungan untuk mengisolasi diri.
Anak yang sudah kecanduan biasanya enggan keluar rumah dan lebih memilih menghabiskan waktu dengan gim atau media sosial.
Amanda mengingatkan bahwa usia dua hingga tiga tahun adalah masa krusial bagi orang tua untuk memberikan stimulasi sensorik dan motorik yang tepat.
Orang tua disarankan melibatkan anak dalam kegiatan rumah tangga yang sederhana, seperti membantu mencuci sayuran atau membersihkan kendaraan.
Aktivitas bermain puzzle dan push bike juga menjadi pilihan efektif untuk mengoptimalkan perkembangan saraf anak di masa pertumbuhan.[]
sumber: ANTARA





