RESONANSI

Masih Seputar Board of Peace

Dari sudut pandang manapun, penampakan “self confidence” diplomasi oleh dunia Islam, termasuk Indonesia, dalam forum ini justru (merupakan) sebuah kegelian yang memalukan.

Kita sadar bahwa dalam 75 tahun lebih dunia Islam telah gagal memperjuangkan Palestina dan Masjid al-Aqsa. Dan kegagalan itu disebabkan karena mereka rela terjatuh dalam pelukan kontrol negara adi daya Amerika. Dunia Islam berhasil diporakporandakan sehingga tidak mampu membangun kesatuan sikap dan kebersamaan.

Kini dengan masuknya segelintir negara-negara Islam, logika apa yang dipakai sehingga sangat parcaya diri?

Apalagi dengan karakter Trump yang “bossy” menempatkan diri sebagak tuan, sementara anggota-anggotanya bagaikan bocah-bocah yang senang jika pundaknya ditepuk. Runyamnya lagi, Netanyahu menjadi anggota Istimewa, satu-satunya pemimpin yang nantinya bisa mempengaruhi Trump melalui lobbi politik Yahudi di Amerika; AIPAC.

Sehingga pernyataan Menlu bahwa Indonesia akan lebih leluasa berbuat untuk Palestina dengan menjadi anggota BOP adalah bentuk bualan yang tidak memiliki basis argumentasi yang sehat.

Dukungan Tokoh-Tokoh Agama

Yang juga runyam dan “deeply concerning” adalah adanya tokoh-tokoh Muslim yang ikut mendukung Indonesia menjadi anggota BOP. Kekhawatiran saya pribadi sebenarnya lebih dalam lagi (deeper) dari sekedar dukungan kepada keputusan RI menjadi anggota BOP.

Jika berbicara tentang hubungan Muslim-Yahudi, saya bukan seseorang yang baru dan asing, apalagi sekadar penonton atau pengamat.

Saya telah membangun relasi antar agama, termasuk dengan Komunitas Yahudi sejak tahun 2001 lalu. Dan sejak itu pula saya mempelajari dan mengamati, di mana letak rahasia sehingga dunia ini terasa dikontrol oleh mereka, padahal jumlah mereka di dunia ini hanya 15 hingga 16 juta orang.

Bandingkan dengan umat (Muslim) ini yang (jumlahnya) mencapai sekitar dua miliar jiwa. Dalam 10 tahun terakhir saja, antara 2010 hingga 2020, jumlah anggota umat (Muslim) ini bertambah lebih 345 juta jiwa. Menjadikan umat kini mencapai 25-26 persen dari total penduduk dunia!

Dalam perjalanan, saya menemukan bahwa dari jumlah sekitar 15-16 juta Yahudi itu mayoritasnya masih konsisten dengan ajaran Taurat mereka. Walaupun kita tahu (bahwaTaurat) telah banyak mengalami distorsi sepanjang perjalanan sejarahnya.

Namun, ada segelintir yang sejujurnya tidak peduli dengan agama dan hukum Taurat lagi. Mereka menjadikan agama sebagai kendaraan atau slogan untuk mencapai kepentingannya. Mereka inilah yang tergabung dalam kelompok yang disebut “Zionis”. Ideologinya disebut “Zionisme”.’ Sebuah kelompok yang didirikan justru oleh seseorang yang dikenal Marxist.

Kelompok kecil Yahudi inilah yang punya kontrol di berbagai aspek kehidupan; khususnya ekonomi/keuangan dan media.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button