RESONANSI

Masih Seputar Board of Peace

Ada banyak organisasi Yahudi yang beraliran Zionis ini. Dua di antaranya yang paling terkenal dan gencar melakukan ekspansi ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Yaitu Jewish World Congress dan American Jewish Council (AJC). Namun AJC memiliki jaringan dan pergerakan yang lebih luas dan cepat.

Di Amerika, selain AJC, juga ada ADL (Anti Defamation League) dan AIPAC (American Israel Public Affairs Committee).

AJC (American Jewish Council) lebih sering menampakkan diri sebagai organisasi yang bergerak di bidang hubungan antaragama (interfaith). Sehingga slogan yang dipakai adalah “merekatkan hubungan antar pemeluk agama untuk Perdamaian dunia”. Sebuah slogan yang memang indah dan mulia; membangun hubungan yang baik demi terjadinya perdamaian dunia.

Karena wajah “hubungan antar agama dan perdamaian” inilah saya pernah tertarik untuk ikut (setelah diajak dengan berbagai bujukan) menjadi anggota “Dewan Hubungan Muslim-Yahudi” AJC. Ketika itu saya tidak menyadari bahwa organisasi ini adalah Zionist bahkan perpanjangan tangan Israel.

Dalam perjalanan, saya menyadari bahwa keberadaan saya di “Dewan Penasihat Hubungan Muslim-Yahudi” itu justru dipandang sebagai “gangguan”. Hal itu karena saya selalu mendesak agar serangan Israel di Gaza dihentikan, bukan mengutuk Israel. Itupun dianggap tidak lagi sebagai posisi yang moderat. Saya akhirnya menarik diri dari keanggotaan Muslim-Jewish Advisory Council AJC.

Saya menuliskan ini untuk mengingatkan bahwa organisasi yang sama (adalah organisasi) yang pernah mengundang Gus Dur dan memberikan penghargaan, juga Yahya Staquf dan beberapa dosen muda dari Indonesia yang sempat heboh.

Organisasi yang sama (juga) pernah mengundang Imam Besar masjid Istiqlal ke Amerika beberapa minggu untuk belajar keyahudian. Belakangan, kita dihebohkan ketika ketuanya, Ary Gordon, dijadwalkan akan memberikan presentasi di hadapan peserta pengkaderan ulama (di) Masjid Istiqlal!

AJC telah berhasil berpenetrasi di beberapa universitas Islam, seperti UIN dan lain-lain. Organisasi ini juga berhasil melakukan pendekatan ke organisasi-organisasi Islam, seperti NU, Muhammadiyah, termasuk organisasi yang mereka sendiri anggap radikal seperti Wahdah Islamiyah, dan lain-lain. Sebagian tokoh organisasi itu pernah meminta pendapat saya dan saya telah ingatkan.

Tujuan terutama AJC adalah mengupayakan “normalisasi” hubungan antara umat Islam dan Yahudi. Namun karena AJC adalah organisasi Zionis, maka tujuan mereka yang absolute adalah normalisasi rasa resistensi umat Islam kepada Israel!

Pendekatan itu dilakukan dengan sangat persuasif di satu sisi. Di sisi lain, mental inferioritas sebagian umat menjadikan mereka mudah terjatuh dalam perangkapnya. Inilah yang saya maksud dengan kekhawatiran saya terhadap dukungan sebagian tokoh-tokoh Islam itu yang justeru lebih dalam lagi ketimbang sekadar dukungan kepada BOP.

Intinya, banyak benang kusut yang perlu diluruskan di balik keanggotaan Indonesia di Board of Peace. Dan lebih khusus lagi, dukungan sebagian tokoh Islam itu.

Teka-teki terlalu banyak. Husnuzhan bisa saja. Tapi realita di lapangan jelas, keanggotaan Indonesia hanya semakin menguatkan tujuan penjajahan, sebuah sikap yang anti Konstitusi RI. []

Manhattan, 4 Februari 2026

*Poetra Kajang, a Proud New Yorker

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button