Meluruskan Salah Kaprah Rukun Niat, Fatihah, dan Berdiri
Jika di tengah shalat seseorang tiba-tiba merasa lemah, ia diperkenankan melanjutkan shalatnya sesuai kemampuan, begitu pula sebaliknya jika ia tiba-tiba merasa mampu berdiri.
Seseorang yang masih kuat berjalan menuju masjid atau mengambil wudu sendiri tidak dianggap lemah kondisinya, sehingga shalatnya tidak sah jika ia sengaja duduk tanpa uzur.
Berdiri lama dalam shalat untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an setelah Al-Fatihah merupakan amalan utama yang mendatangkan pahala besar dan dicintai Allah.
Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَائِمِ وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَاعِدِ “
Siapa yang shalat berdiri maka itulah yang paling utama, dan barang siapa yang shalat dengan duduk maka baginya setengah dari pahala berdiri, dan barang siapa shalat dengan berbaring maka baginya setengah dari pahala yang duduk.” (HR Bukhari).
Merujuk pada kitab Kasyifatus Saja karya Syekh Muhammad Nawawi bin Umar, membaca Al-Fatihah termasuk rukun qauli yang diwajibkan dalam setiap rakaat shalat.
Kewajiban membaca surat ini berlaku bagi imam, makmum, maupun orang yang shalat sendirian, sebagaimana ditegaskan dalam hadis sahih.
لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
“Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca Surat Al-Fatihah.” (HR Bukhari dan Muslim).
Bagi makmum, Al-Fatihah dapat dibaca secara beriringan dengan imam atau menunggu setelah imam selesai membacanya secara sempurna.
Jika seseorang belum hafal Al-Fatihah, ia boleh membaca melalui mushaf Al-Qur’an atau menggantinya dengan ayat lain dan zikir tertentu yang ia kuasai.
Salah satu zikir pengganti yang dapat dibaca oleh orang yang benar-benar tidak mampu membaca Al-Fatihah adalah sebagai berikut.
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ
“Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Mahabesar. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
Wallahu a’lam bish-shawab.
Desti Ritdamaya






