KHOTBAH

Memperbaiki Negeri, Mulailah dari Diri Sendiri

Jamaah Salat Jum’at yang Dirahmati Allah,

Mengaitkan kisah Nabi Nuh a.s. dengan keadaan yang sedang kita hadapi hari ini, ada satu pesan penting yang perlu kita renungkan. Ketika kita berbicara tentang berbagai krisis yang terjadi di tengah masyarakat dan bangsa kita—krisis moral, krisis kejujuran, krisis amanah, ketidakadilan, korupsi, konflik, kerusakan lingkungan, hingga berbagai persoalan sosial lainnya—sering kali kita sibuk mencari siapa yang harus disalahkan dan sistem apa yang harus diperbaiki.

Kita berharap pemimpin berubah. Kita berharap pejabat lebih jujur. Kita berharap masyarakat lebih tertib. Kita berharap hukum lebih tegas. Kita berharap keadaan ekonomi membaik. Semua itu tentu penting. Namun, Al-Qur’an melalui kisah Nabi Nuh a.s. mengajarkan kepada kita bahwa perubahan yang paling mendasar harus dimulai dari perubahan manusia itu sendiri.

Perhatikanlah apa yang disampaikan Nabi Nuh a.s. kepada kaumnya. Ketika mereka menghadapi berbagai persoalan, Nabi Nuh tidak pertama-tama mengatakan, “Perbaikilah keadaan di luar diri kalian.” atau yang lebih provokatif seperti, “Mari mereset ulang negeri ini.” Beliau justru menyeru:

ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارا

‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.'”

Perintah pertama yang disampaikan adalah istighfar.

Mengapa istighfar?

Karena persoalan manusia sering kali bermula dari dalam dirinya sendiri. Kerusakan yang tampak di tengah masyarakat sering kali merupakan akumulasi dari kerusakan yang terjadi dalam diri individu. Ketika banyak individu kehilangan kejujuran, lahirlah masyarakat yang penuh kebohongan. Ketika banyak orang mengkhianati amanah, lahirlah krisis kepercayaan. Ketika keserakahan menjadi kebiasaan, lahirlah ketimpangan dan praktik mengambil hak orang lain. Ketika kesombongan menguasai hati, lahirlah permusuhan dan sulitnya menerima nasihat.

Dengan demikian, krisis sosial pada akhirnya juga merupakan krisis manusia. Dan krisis manusia harus dimulai dengan memperbaiki manusia itu sendiri.

Jamaah Salat Jum’at yang Dirahmati Allah,

Taubat dan istighfar adalah pintu pertama perubahan tersebut.

Taubat berarti kembali. Kembali dari jalan yang salah menuju jalan yang benar. Kembali dari kemaksiatan menuju ketaatan. Kembali dari kesombongan menuju kerendahan hati. Kembali dari keserakahan menuju qanaah. Kembali dari kebohongan menuju kejujuran. Kembali dari mengkhianati amanah menuju tanggung jawab.

Sedangkan istighfar adalah pengakuan seorang hamba bahwa dirinya memiliki kesalahan dan membutuhkan ampunan Allah.

Maka, istighfar yang sesungguhnya tidak berhenti pada ucapan أَسْتَغْفِرُ اللهَ di lisan. Istighfar harus menggerakkan seseorang untuk meninggalkan dosa yang selama ini dilakukan.

Jika selama ini lisannya gemar berdusta, maka istighfarnya harus membuatnya belajar berkata benar. Jika selama ini tangannya mengambil sesuatu yang bukan haknya, maka istighfarnya harus membuatnya mengembalikan hak tersebut. Jika selama ini ia menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi, maka istighfarnya harus membuatnya kembali kepada amanah. Jika selama ini ia gemar merendahkan orang lain, maka istighfarnya harus membuatnya belajar menghormati sesama. Jika selama ini ia lalai terhadap keluarganya, maka istighfarnya harus membuatnya kembali menunaikan tanggung jawab.

Inilah perubahan yang dikehendaki oleh taubat dan istighfar: bukan sekadar perubahan ucapan, tetapi perubahan sikap dan perilaku.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button