NUIM HIDAYAT

Seandainya Negeriku Dasarnya Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah wahyu Allah satu-satunya yang otentik di dunia ini. Kitab-kitab lain yang dianggap suci, sudah ada campur tangan manusia.

Bibel sudah banyak berubah dan membingungkan. Mereka yang mencermati perubahan Bibel, akan meninggalkannya. Seperti banyak orang Barat yang sudah tidak percaya lagi pada Bibel. Di Indonesia, Bibel dulu ada kalimat yang diharamkan adalah babi. Karena banyak orang Kristen makan babi, kemudian diubah yang diharamkan adalah babi hutan.

Nama Tuhan pun berubah-ubah. Dalam bahasa Inggris disebut God, di Bibel Indonesia disebut Allah (untuk menyamakan dengan orang Islam). Kalau dalam Al-Qur’an semua Nabi perilakunya suci, di dalam Bibel ada beberapa Nabi yang melakukan dosa besar.

Taurat dan Zabur ‘sampai kini tidak ditemukan aslinya’. Sehingga orang Yahudi berpegang pada ‘Talmud‘ atau lainnya. Orang-orang Yahudi membuat doktrin sendiri yang memuliakan kaum Yahudi. Yahudi dianggap mereka ras yang terbaik di dunia dan berhak memimpin dunia, dengan cara apapun. Baik dengan cara demokrasi maupun otoriter. Baik dengan cara membunuh jutaan manusia, maupun dengan cara menyiksa manusia dengan kejam. Bagi Yahudi, selain rasnya dianggap setengah manusia. Maka jangan heran pemimpin-pemimpin Yahudi menyiksa tawanan Palestina dengan cara mengerikan. Memperkosanya, meremukkan tulang tangan atau kaki, membuat gila, membuat buta dan lain-lain.

Sampai kini ‘kita tidak menemukan’ orang kafir yangg hafal Bibel, Taurat atau Zabur. Tapi kaum Muslimin yang hafal Al-Qur’an jumlahnya ribuan. Setiap negara, banyak yang hafal Al-Qur’an. Al-Qur’an mudah dihafal (dan difahami), cocok dengan struktur otak manusia.

Al-Qur’an dijaga Yang Maha Kuasa tidak mengalami perubahan sejak diturunkan kepada Rasulullah Muhammad saw. Al-Qur’an yang kita pegang sekarang, sama dengan Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan yang dihafalkan atau beredar pada sahabat Rasulullah saw.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an (adz-Dzikr), dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS. al Hijr 9)

قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“(Yaitu) Al-Qur’an dalam bahasa Arab, yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) agar mereka bertakwa.” (QS. az Zumar 28)

لَا يَأْتِيهِ ٱلْبَاطِلُ مِنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِۦ ۖ تَنزِيلٌۭ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

“Tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya. (Al-Qur’an itu) diturunkan dari (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fushshilat 42)

Rasulullah menyatakan bahwa para ulama atau cendekiawan yang mendalami Al-Qur’an tidak akan kenyang (bosan). Selalu ada makna-makna baru yang menarik bila kita menghayati Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh. Makanya tafsir Al-Qur’an selalu tumbuh di tiap zaman. Ada tafsir yang menitikberatkan pada ayat Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an yang lain, pada Hadits Nabi, pada sejarah, pada sains, pada sosial politik dan lain-lain.

Tidak ada kitab suci yang dibaca tiap hari di rumah-rumah, di masjid dan kadang di mobil, kereta atau pesawat. Kaum Muslimin membaca Al-Qur’an di berbagai tempat dengan semangat. Karena membaca Al-Qur’an -meski tidak tahu maknanya- mendapat pahala dari Allah Swt. Apalagi bila tahu maknanya maka pahalanya lebih besar lagi.

Al-Qur’an adalah pedoman individu, keluarga, masyarakat dan negara (seharusnya). Individu yang berpegang teguh pada Al-Qur’an maka ia akan menjadi individu yang hebat. Imam Hasan al Bana pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin misalnya. Sekitar umur 10 tahun sudah hafal Al-Qur’an. Ketika dewasa selain mempelajari Al-Qur’an, ia juga mempelajari bahasa Arab, fiqh, sejarah, politik dan lain-lain. Sehingga ketika dewasa, kata-katanya mempunyai makna yang mendalam. Bila ia ceramah, ribuan orang menyimaknya dengan tekun. Selain ahli dalam komunikasi publik, sang Imam juga ahli dalam manajemen. Sehingga ketika ia masih hidup, gerakan Ikhwanul Muslimin berkembang sangat cepat di Mesir. Masyarakat menyambut gerakannya dengan suka cita. Hingga akhirnya ia dibunuh pasukan kerajaan, karena dengki sang penguasa terhadap sang Imam.

Sayid Qutb adalah ulama besar Mesir. Ia cendekiawan, ahli sastra dan mempunyai ‘kemampuan orasi yang hebat’. Tulisan-tulisannya selalu menjadi best seller saat itu. Baik di Mesir maupun negeri-negeri Islam lainnya. Ia hafal Al-Qur’an juga sekitar 10 tahun. Ia pernah kuliah di Amerika sekitar dua tahun. Ia mengritik perilaku masyarakat Amerika yang seperti mesin, tidak ada kehidupan ruhaniah di sana. Pengaruh Sayid Qutb juga luar biasa di Mesir saat itu. Sehingga kemudian penguasa zalim otoriter, Gamal Abdul Nasser memenjarakan dan membunuhnya (menggantungnya). Qutb dibunuh bukan karena mengadakan kekerasan atau kudeta. Tapi dibunuh karena penguasa tidak setuju dengan tulisan atau buku-bukunya.

1 2 3 4 5Laman berikutnya
Back to top button