KHOTBAH

Memperbaiki Negeri, Mulailah dari Diri Sendiri

Jamaah Salat Jum’at yang Dirahmati Allah,

Perhatikan pula bagaimana Nabi Nuh a.s. menghubungkan istighfar dengan berbagai bentuk kebaikan dalam kehidupan:

يُرۡسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارا ١١ وَيُمۡدِدۡكُم بِأَمۡوَٰل وَبَنِينَ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ جَنَّٰت وَيَجۡعَل لَّكُمۡ أَنۡهَٰرا ١٢

Allah akan menurunkan hujan yang lebat, memberikan harta dan keturunan, serta menghadirkan kebun-kebun dan sungai-sungai.

Ini menunjukkan bahwa taubat dan istighfar bukanlah perkara yang hanya berkaitan dengan kehidupan akhirat. Keduanya juga menjadi jalan hadirnya keberkahan dalam kehidupan dunia.

Namun, kita harus memahami maknanya dengan benar. Istighfar bukanlah formula ajaib yang membuat semua persoalan selesai tanpa usaha. Istighfar adalah titik awal perubahan manusia. Setelah seseorang memohon ampun kepada Allah, ia harus memperbaiki dirinya, memperbaiki perilakunya, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan memperbaiki tanggung jawab yang diembannya.

Karena itu, ketika seorang pemimpin beristighfar, ia harus memperbaiki cara memimpinnya. Ketika seorang pejabat bertaubat, ia harus meninggalkan pengkhianatan terhadap amanah. Ketika seorang pedagang bertaubat, ia harus meninggalkan kecurangan. Ketika seorang guru bertaubat, ia harus memperbaiki tanggung jawab mendidiknya. Ketika seorang ayah dan ibu bertaubat, mereka harus memperbaiki cara mendidik anak-anaknya. Dan ketika masyarakat bertaubat, masyarakat harus mulai meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang selama ini dianggap biasa.

Jamaah Salat Jum’at yang Dirahmati Allah,

Barangkali kita sering bertanya, “Kapan keadaan bangsa ini berubah?”

Mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah: “Kapan kita mulai berubah?”

Kita sering berharap pemimpin berubah, tetapi sudahkah kita berubah? Kita berharap masyarakat menjadi lebih jujur, tetapi sudahkah kita membiasakan kejujuran dalam kehidupan kita? Kita berharap korupsi diberantas, tetapi sudahkah kita menjaga diri dari mengambil sesuatu yang bukan hak kita? Kita berharap lingkungan menjadi lebih baik, tetapi sudahkah kita berhenti merusak lingkungan di sekitar kita? Kita berharap masyarakat tidak mudah menyebarkan fitnah dan berita bohong, tetapi sudahkah kita menjaga lisan dan jari-jari kita dari menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya?

Inilah pelajaran penting dari dakwah Nabi Nuh a.s. Perubahan besar tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Perubahan besar dimulai ketika manusia berani mengakui kesalahannya, memohon ampun kepada Allah, kemudian sungguh-sungguh memperbaiki dirinya.

Jangan menunggu orang lain berubah untuk kemudian kita berubah. Jangan menunggu pemimpin menjadi baik untuk kemudian kita menjadi baik. Jangan menunggu masyarakat jujur untuk kemudian kita berlaku jujur.

Sebab setiap kita akan mempertanggungjawabkan diri kita masing-masing di hadapan Allah Swt. Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d [13]: 11).

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa perubahan keadaan suatu kaum memiliki hubungan dengan perubahan yang mereka lakukan terhadap diri mereka sendiri.

Maka, jika kita menginginkan keluarga yang baik, mari kita mulai dengan memperbaiki diri. Jika kita menginginkan masyarakat yang baik, mari kita mulai dengan memperbaiki diri. Jika kita menginginkan pemimpin yang amanah, mari kita mulai dengan menjadi pribadi yang amanah. Jika kita menginginkan bangsa yang penuh keberkahan, mari kita mulai dengan memperbanyak taubat, istighfar, dan memperbaiki amal kehidupan kita.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button