Mencari Tuhan di Atas Awan
Rencana Lain di Balik Kegagalan
Banyak orang yang harus melewati fase hidup yang teramat berat, di mana semua usaha keras dan untaian doa seolah-olah menguap begitu saja ke udara tanpa jawaban. Bayangkan seorang mahasiswa yang harus melihat studinya terbengkalai di tengah jalan, padahal ia telah mengorbankan waktu, air mata, dan doa yang tidak pernah putus.
Pada saat peristiwa itu terjadi, dunia seakan runtuh dan vonis gagal melekat erat di pundak. Namun, sejarah kehidupan sering kali ditulis dengan tinta yang tidak linier.
Bertahun-tahun kemudian, ketika lembaran waktu mulai terbuka, barulah manusia menyadari bahwa penghentian paksa di jalur lama tersebut adalah sebuah bentuk penyelamatan.
Jika saja studi itu selesai tepat waktu dan karier berjalan mulus di jalur tersebut, bisa jadi manusia akan terjebak dalam sebuah ekosistem yang merusak jiwa atau menghadapi badai hidup yang tak sanggup dipikul. Pengalihan rute kehidupan ini sering kali membawa manusia pada sebuah pelabuhan baru yang jauh lebih berkah, dewasa, dan bermakna.
Pengalaman empiris seperti ini mematahkan kesombongan sains yang hanya bersandar pada data hari ini. Ia membuktikan bahwa ada sebuah skenario besar yang sedang berjalan, sebuah rancangan yang jauh lebih presisi daripada sekadar hitungan matematis di atas kertas.
Pada akhirnya, berjalan di atas muka bumi dengan kesadaran spiritual membuat manusia melangkah dengan penuh keberadaban. Berdoa setelah mengerahkan seluruh kemampuan terbaik adalah tanda bahwa manusia mengenali hakikat dirinya sebagai makhluk yang rapuh.
Di tengah dunia yang bergerak makin cepat dan penuh dengan ketidakpastian ekonomi serta sosial, doa bukan lagi sekadar ritual usang yang layak ditinggalkan di laboratorium sains. Ia adalah kebutuhan mutlak bagi kesehatan jiwa, sebuah jembatan kokoh yang menghubungkan keterbatasan akal manusia dengan kemahakuasaan Sang Pencipta yang mengendalikan seluruh alam semesta.[]
Muhibbullah Azfa Manik






