Pintal Benang di Atas Puing, Perajin Karpet Gaza Hidupkan Warisan 300 Tahun
KOTA GAZA (Suaraislam.id)— Di sebuah ruangan sempit di bawah rumahnya di timur Kota Gaza, seorang perajin Palestina bernama Hussein Mahmoud al-Sawwaf memutar roda kayu secara manual. Helai-helai benang wol dan akrilik terbentang di atas alat tenun sederhana, perlahan membentuk selembar karpet buatan tangan.
Di lokasi tersebut tidak terdapat aliran listrik, mesin modern, maupun sisa-sisa pabrik besar tempat al-Sawwaf bekerja sebelum perang terjadi.
Ia hanya mengandalkan peralatan sederhana, sisa-sisa benang yang diselamatkan dari reruntuhan, serta keterampilan tangan yang telah terlatih puluhan tahun.
Di rumahnya di lingkungan Al-Tuffah—dekat dengan “Garis Kuning” tempat pasukan Israel disiagakan—al-Sawwaf mengubah ruang kecil menjadi bengkel kerja karpet. Langkah ini ia ambil setelah pabrik miliknya hancur dan gudangnya terbakar akibat serangan udara.
Di tengah kelangkaan karpet dan alas lantai di pasar Gaza yang memicu lonjakan harga, al-Sawwaf membangkitkan kembali kerajinan warisan keluarganya sejak 300 tahun lalu.
Bagi al-Sawwaf, pembuatan karpet kini bukan lagi sekadar mempertahankan profesi leluhur. Usaha ini menjadi sarana menyediakan produk berharga terjangkau bagi warga Palestina yang terdampak secara ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja bagi para buruh yang kehilangan mata pencaharian.
Kebutuhan akan produk tersebut terus meningkat seiring hancurnya pemukiman dan tempat usaha warga Palestina.
Sebagian besar penduduk terpaksa tinggal di dalam tenda, pusat pengungsian, atau tempat penampungan sementara karena rumah mereka hancur dan tidak dapat dihuni.
Kerajinan yang Bangkit Kembali dari Kebutuhan
Beberapa pria yang sebelumnya bekerja di pabrik al-Sawwaf kini kembali bergabung di bengkel kerja tersebut. Kerajinan tangan ini memulihkan ruang mata pencaharian mereka setelah sempat terhenti akibat krisis kemanusiaan.
Para pekerja mengoperasikan roda pemutar manual rancangan al-Sawwaf guna mengatasi krisis pasokan listrik yang melanda Gaza.
Putra dari almarhum pembuat karpet Mahmoud Husni al-Sawwaf ini mengaku terpaksa menghentikan produksi pada minggu-minggu awal konflik dan mengungsi ke wilayah selatan.
Seiring berlanjutnya pembatasan yang memicu kelangkaan karpet, kain, dan bahan baku di pasar lokal, ia memutuskan untuk merintis kembali usahanya dengan sumber daya tersisa.
“Setelah kain, karpet, dan alas lantai tidak lagi tersedia, saya mulai merenovasi tempat ini dan kembali bekerja agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama pengungsi di tenda-tenda,” ujar al-Sawwaf kepada Anadolu.






