Kelompok Perdamaian Jerman Tolak Rencana Produksi Senjata Militer di Pabrik Volkswagen
BERLIN (Suaraislam.id)— Kelompok aktivis perdamaian di Jerman berkomitmen memobilisasi aksi penolakan terhadap rencana alih fungsi pabrik Volkswagen di Osnabrueck menjadi fasilitas produksi sistem pertahanan yang bekerja sama dengan perusahaan Israel, Rafael Advanced Defense Systems.
“Kami melihat ada peluang untuk menyalurkan perlawanan masyarakat sipil terhadap produksi senjata di kota ini. Fokus utama kami adalah memobilisasi warga,” ujar juru bicara Osnabruck Peace Initiative, Marie Dominique Guyard, kepada Anadolu.
“Kami ingin meningkatkan tekanan terhadap partai politik dan pejabat kota. Strategi kami adalah membuka ruang diskusi politik terkait isu produksi senjata di wilayah ini,” tambahnya.
Osnabruck Peace Initiative memimpin gelombang protes dalam beberapa bulan terakhir guna mendesak manajemen Volkswagen membatalkan proyek manufaktur pertahanan tersebut.
Baca juga: Pabrik Volkswagen Dijual ke Perusahaan Israel untuk Produksi Komponen Iron Dome
Inisiatif penolakan ini didukung Partai Kiri (Die Linke) yang menilai rencana kerja sama dengan perusahaan BUMN Israel, Rafael, tidak dapat diterima di tengah situasi konflik di Gaza.
Rafael terus memperluas ekspansi bisnisnya di Eropa seiring kebijakan peningkatan anggaran pertahanan oleh sejumlah pemerintah benua tersebut.
Berdasarkan skema alih fungsi, Volkswagen sepakat menjual fasilitas Osnabrueck kepada perusahaan private equity Aurelius dan pemerintah negara bagian Lower Saxony untuk dikembangkan menjadi pusat manufaktur pertahanan.
Fasilitas tersebut ditargetkan memproduksi sistem dan komponen pertahanan udara bagi Jerman dan negara-negara Eropa lainnya.
Volkswagen sendiri telah menetapkan penghentian pengoperasian produksi kendaraan komersial di pabrik Osnabrueck secara bertahap hingga pertengahan tahun 2027.
Tudingan Subsidi Langsung Industri Militer
Para aktivis dan politisi oposisi mengritik rencana alih fungsi ini dan mendesak agar pabrik tetap beroperasi untuk manufaktur sipil.
Penutupan jalur produksi otomotif Volkswagen dipicu oleh penurunan permintaan, tingginya biaya operasional domestik, ketegangan perdagangan internasional, serta persaingan industri kendaraan listrik.
Guyard menilai kerja sama dengan Rafael mengarah pada bentuk bantuan finansial bagi industri persenjataan Israel.
“Langkah ini pada hakikatnya merupakan subsidi langsung bagi produsen senjata Israel, yang kami nilai tidak tepat secara politik di tengah eskalasi militer di Gaza, Tepi Barat, Lebanon, dan Iran,” tegasnya.






