KHOTBAH

Mencegah Kemunkaran dengan Penuh Hikmah

KH. Imam Nur Suharno, S.Pd., S.Pd.I., M.Pd.I., Pembina Korps Mubaligh Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاه. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ
فَإنِّيْ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْاٰنِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
فَقَالَ الله تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْكَرِيْمِ: كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita panjatkan puja-puji syukur kehadirat Allah Swt atas segala limpahan niknat-Nya, sehingga kita bisa berkumpul pada Jumat siang hari ini. Shalawat serta salam mari kita haturkan kepada Nabi Muhammad saw, suri tauladan kita semua, Nabi akhir zaman.

Tak lupa, pada kesempatan yang baik ini, khatib mengajak kepada diri pribadi khatib dan kepada jamaah sekalian untuk terus meningkatkan iman dan takwa kepada Allah Swt. Tentunya dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Suatu hari, Abu Darda ra melewati seorang laki-laki yang baru saja melakukan sebuah dosa, sementara orang-orang yang melihatnya mencela dan memakinya. Abu Darda tidak senang melihat perlakuan mereka terhadap seorang laki-laki yang melakukan dosa itu, lalu mencegah mereka.

Kemudian Abu Darda berkata, “Apa pendapat kalian jika orang itu terjatuh di sebuah lubang yang dalam. Apakah kalian akan mengeluarkannya dari lubang itu?” “Oh, tentu.” jawab mereka. Abu Darda kemudian melanjutkan, “Kalau begitu, jangan kalian caci maki dia, dan pujilah Allah yang memaafkan kalian.” Mereka bertanya, “Apakah kami harus membencinya?” Abu Darda menjawab, “Hanya membenci perilakunya. Jika dia meninggalkannya, maka dia adalah saudaraku.” (60 Sirah Sahabat Rasulullah karya Khalid Muhammad Khalid).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Kisah di atas memberikan pelajaran (ibrah) yang sangat berharga kepada kita kaum Muslimin tentang cara mencegah keburukan dan kemungkaran dengan cara-cara yang penuh hikmah. Inilah salah satu metode dalam dakwah. Allah Swt berfirman,

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. an-Nahl [16]: 125).

Dalam ayat lain, Allah Swt berfirman,

خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Q.S. al-A’raf [7]: 199).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Selain dengan hikmah, hendaknya dalam mencegah keburukan dan kemungkaran itu hendaknya disertai dengan kelemahlembutan, bukan dengan emosional. Dalam hal ini, Allah Swt berfirman

فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Q.S. Ali Imran [3]: 159).

1 2Laman berikutnya
Back to top button