LAPORAN KHUSUS

Mengantar Prabowo ke KPU

Pagi itu, Jumat 10 Agustus 2018 tiba-tiba saya dapat WA dari pak Aru Syeif Assadullah, Pimred Suara Islam dan juga KISDI, bahwa kita insyaallah akan mengawal Kyai Haji Abdul Rasyid AS yang akan mengantar Capres Prabowo Subianto (PS 08) ke KPU, kita kumpul di rumah PS di Kertanegara IV Kebayoran Baru pukul 10.00 wib.

Saya kaget juga, masalahnya hari ini jadwal saya isi khutbah Jum’at di Masjid Az Zikri Sentul, markas KH. Arifin Ilham. Namun dengan berbagai pertimbangan akhirnya saya putuskan untuk memberi tahu kepada pengurus Az-Zikra bahwa saya ada tugas dari Kyai Haji Abdul Rasyid untuk ke Jakarta. Jam 10 lebih sedikit saya sudah sampai di rumah PS. Kyai Abdul Rasyid dan Pak Aru sudah sampai duluan. Saya disambut Sudirman Said dan Sudrajat, dua mantan Cagub yang gagal dalam pilkada baru-baru ini. Suasana walau cukup santai tapi tampak ramai dan sibuk siap-siap mengantar PS ke KPU.

Saya masuk ke ruang dalam, di sana sudah ada Pak Amien Rais dan Ustadz Sambo, guru spiritual PS. Anak pak Amien Hanafi dan Hanum juga ada.

Pak Amien hangat menyambut dan menyalami saya. Beliau mengeluarkan hadits yang diterima dari Abah Roud Bahar tentang keharusan menerima takdir bagi orang mukmin.

Sujud Syukur Amien Rais

Lalu masuk Rahmawati mengabarkan bahwa Demokrat siap gabung. Amien Rais sujud syukur mendengar kabar itu.

Kekuatan Koalisi Partai pengusung Prabowo – Sandi bertambah dengan masuknya Demokrat, apalagi sebelumnya terdepat ketegangan yang cukup serius dengan isu jenderal kardus yang dilemparkan oleh Andi Arief, salah satu petinggi Partai Demokrat. Konon akibat AHY tidak digandeng Prabowo sebagai Cawapres. Prabowo malah milih Sandi yang juga dari Gerindra. Kemarahan mereka membuat PD hampir meninggalkan Prabowo. Kekecewaan tokoh-tokoh PD bisa kita maklumi, sama dengan kekecewaan para aktivis GNPF Ulama yang pada Kamis Malam rekomendasi terbarunya, yakni pasangan Prabowo – Arifin Ilham juga ditolak Prabowo.

Maka dengan bergabungnya PD pagi hari itu, menyusul PKS yang memutuskan bergabung dengan Gerindra dan PAN mengusung PS-Sandi pada malam Kamis, tentu patut disyukuri. Itulah kenapa Pak Amien Rais melakukan sujud syukur.

Tidak lama setelah itu Prabowo keluar dan hampir bersamaan masuk Sekjen PD Hinca Panjaitan dan beberapa orang lagi termasuk Ketum PAN yang juga Ketua MPR Zulkifli Hasan. Karena Hinca mau bicara empat mata dengan PS, maka PS minta izin membawa Hinca ke ruangan dalam dia. Kedatangan Hinca memastikan kebenaran bergabungnya PD.

Ada kabar bahwa Presiden Jokowi akan shalat di Istiqlal. Oleh karena itu, rencana shalat Jumat di Istiqlal digeser ke Masjid Agung Sunda Kelapa. Ada usulan ke saya agar mengondisikan MASK supaya Sandi jadi Imam Sholat Jumat. Saya memberi tahu bahwa MASK punya standar Imam yang tinggi. Alhamdulillah ada Kyai Abdul Rasyid yang menjelaskan bahwa di MASK para imam sudah tetap dan mereka adalah para Qori.

Saya ajak Pak Amien Rais berembuk dengan Pak Kyai Abdul Rasyid. Saya sampaikan usulan agar setelah Sholat Jum’at sebelum berangkat ke KPU ada prosesi Pak Amien bertanya kepada PS: Apakah saudara siap menjadi Presiden? Apakah Saudara siap menjaga keutuhan NKRI? Apakah saudara siap menjaga hak-hak umat Islam? Yang semua harus dijawab siap oleh PS dan kemudian disambut dengan Takbir dan doa pemberangkatan oleh Pak Kyai Abdul Rasyid. Insyaallah ini akan monumental dan menegaskan bahwa Prabowo adalah taat ulama dan Pro Umat Islam.

Sekitar pukul 10.30 PS dan seluruh rombongan bergerak menuju kediaman SBY di Kuningan untuk penandatangan SBY sebagai Ketum PD. Saya bersama Kyai Abdul Rasyid dan Pak Aru dan sejumlah aktivis Gerindra naik bis langsung menuju Masjid Sunda Kelapa. Tiba di Masjid Agung Sunda Kelapa rombongan kami disambut oleh para petinggi masjid, yakni Pak Aksa Mahmud dan Dr. Sutrisno Muslimin. Saat itulah Dr. Sutrisno Muslimin menyampaikan permintaan mendadak agar saya nanti yang isi khutbah. Dengan mengucapkan bismillah saya nyatakan insyaallah siap!

Tidak lama kemudian rombongan Prabowo, Amien Rais, Zulkifli Hasan, Habib Salim Segaf, Sohibul Iman datang.

Saya sempat membisikkan kepada Pak Amien agar rencana yang kita susun di Kertanegara bisa kita laksanakan, “Insyaallah saya yang khatib Pak,” saya tegaskan kepada beliau.

Dengar khutbah yang menyentuh, Prabowo menangis

Menyampaikan khutbah di depan orang-orang besar tentu tidak mudah. Ada Capres-Cawapres PS-Sandi, Ketua MPR Zulhas, Waket MPR Hidayar Nur Wahid, Gubernur Anis, Pimpinan PKS Habib Salim dan Sohibul, Kyai Abdul Rasyid, Pak Amien Rais, Haji Rhoma Irama, dll banyak sekali tokoh. Mungkin alasan itu pulalah pengurus MASK menggeser khotib internal mereka dan meminta saya khutbah.

“Agar strike to the poin pak Ustadz!” tegas Dr Sutrisno meminta. Saya memang sudah beberapa kali ceramah di MASK.

Sebelum naik mimbar pun Pak Amien Rais menghampiri saya di mihrab berpesan agar khutbah saya tidak usah yang keras, tapi yang standar saja. Demikian juag kode yang disampaikan Sandi yang duduk di bawah mimbar tempat saya berkhutbah, tatkala saya duduk menunggu adzan.

Alhamdulillah dengan rahmat, taufiq dan hidayah Allah SWT saya menyampaikan khutbah dengan fasih, kalem, dan kata-kata yang lembut tapi penuh makna. Saya membacakan dan mengurai firman Allah SWT dalam Surat An Nisa ayat 58 tentang tupoksi penguasa, yakni wajib menjaga amanat penderitaan rakyat dan memerintah dengan adil. “Rakyat, apapun agama dan kebangsaannya, wajib dijaga ketersediaan sandang, pangan, dan papan. Mereka tidak boleh ada yang lapar, tidak boleh ada telanjang, dan tidak boleh ada yang gelandangan. Satu saja ada rakyat yang lapar dan tidak diatasi, maka penguasa itu di hari akhirat akan dimintai pertanggungjawaban, sebagai penguasa kenapa tidak mengatasinya…Siapa suruh jadi penguasa?….”

Saat itu saya lihat Prabowo serius khusyu dan tampak matanya berkaca-kaca, menangis!

Selesai sholat jumat, Rhoma menyalami saya sambil berkata”Ahsantum!”. Pak Amien menyalami sambil berkata :”Khutbahnya excelent!”. Prabowo menyalami saya sambil memeluk saya mengatakan,”Khutbahnya luar biasa! Anda lihat kan saya menangis tadi?.” “Ya, saya lihat”, jawab saya. Prabowo melepaskan pelukan dan jabatan tangannya dan saya akan beralih bersalaman dengan Habib Salim yang ada di sebelah Prabowo. Namun Prabowo segera memeluk dan menyalami saya sambil mengatakan: “Ada rekamannya nggak, saya perlu rekamannya”. Subhanallah! Saya tidak menyangka ternyata hati Prabowo sangatlah lembut. Dia taat kepada firman Allah. Dia sadar bahwa nantinya sebagai Presiden RI harus melaksanakan tupoksi penguasa yang tercantum dalam Al Quran tersebut. Ya, ayat suci itu memang harus menjadi inspirasinya sekaligus subyek pemikirannya dalam menjalankan tugas-tugas kenegaraan. Allahu Akbar!!!

Mengantar ke KPU

Setelah itu kami menuju ruang kantor MASK. Di situ Prabowo menyatakan terimakasih dengan khutbah yang menyatakan bahwa tupoksi penguasa dua saja, yakni mengemban amanat penderitaan rakyat dan memerintah dengan adil. Berulang-ulang dia menyebut hal itu dan juga ucapan terimakasih kepada khotib Jumat. Alhamdulillah.

Bagi Prabowo, khutbah saya tadi tampaknya begitu impresif. Bagi saya, Prabowo bukanlah figur yang keras hati dan arogan harga mati, sebagaimana kesan kebanyakan orang, terutama para propagandis dari lawan politiknya, tapi hatinya bisa lembut, bisa begitu menangis dan menundukkan dirinya di bawah ayat-ayat Allah Yang Maha Kuasa. Allahu Akbar!

Saya bersyukur telah dipilih oleh Allah SWT untuk menyampaikan khutbah dadakan tersebut yang saya fahami bahwa Allah hendak menyampaikan ilmunya tentang tupoksi kepala negara kepada seorang capres bernama Prabowo yang orangnya kelewat kuat dan pinter yang kabarnya tidak semua orang di lingkungannya berani menyampaikan suatu pendapat. Semoga kesan selama ini Prabowo arogan, tidak mau mendengar pendapat orang lain, dan tidak punya adab kepada ulama menjadi sirna dengan kejadian tersebut.

Oleh karena itu, dengan ketetapan hati saya mengikuti ajakan Kyai Abdul Rasyid untuk mengantar Prabowo ke KPU. Kami kebanyakan berjalankaki menuju kantor KPU di Jalan Imam Bonjol yang hanya beberapa ratus meter dari MASK. Sepanjang jalan Prabowo berorasi menyampaikan pandangan-pandangannya yang selama ini menjadi platform dan visi misi partainya.

Pidatonya tampak berapi-api yang mengingatkan kita kepada presiden RI yang pertama, Bung Karno. Manusia menyemut dan memberikan dukungan kepada apa yang disampaikan Prabowo sepanjang jalan.

Dan Prabowo masih mengulang bahwa dirinya bersyukur telah diingatkan oleh Khotib Jumat tentang tupoksi penguasa Cuma dua saja, yakni mengemban amanat penderitaan rakyat dan memerintah dengan adil. Allahu Akbar!

Semoga pada tahun 2019 Prabowo diamanahi sebagai Presiden RI dan bisa mengamalkan tupoksi tersebut. Allahumma Amien!

Bogor, Jumat 17 Agustus 2018

Muhammad Al Khaththath
Sekjen Forum Umat Islam dan Sekjen GNPF Ulama.

Artikel Terkait

Back to top button