QUR'AN-HADITS

Dua Sisi yang Berbeda

Allah SWT berfirman:

بسم الله الرحمن الرحيم

وَمِمَّنْ خَلَقْنَا أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ ۝ وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ ۝ وَأُمْلِي لَهُمْ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ

“Di antara orang-orang yang telah Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan (dasar) kebenaran dan dengan itu (pula) mereka berlaku adil. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (menuju kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-A’raf: 181-183).

Kini kita menyaksikan setiap hari bahwa sebagian kehidupan para ulama, kiai dan gus, para pengusaha, para penguasa, bahkan rakyat jelata, semakin sulit diprediksi. Manakah ulama yang lurus dan manakah ulama yang bulus. Demikian pula para penguasa, mana yang jujur dan mana yang hanya pandai berjanji. Begitu juga para pengusaha, mana yang amanah dan mana yang curang. Bahkan di kalangan rakyat biasa pun demikian, mana yang sungguh-sungguh dan mana yang malas.

Karena itu, dalam nasihat kali ini kita mencoba melihat realitas tersebut dari konsep yang ditawarkan oleh ajaran Islam, khususnya melalui petunjuk Al-Qur’an.

Inti pembahasan ayat 181-183 Surat Al-A’raf terdiri dari tiga kalimat penting, yaitu Ummatun Yahdun, Sanastadrijuhum, dan Wa Umli Lahum. Ketiganya menggambarkan adanya dua sisi yang berbeda dalam kehidupan manusia.

Sisi pertama adalah golongan manusia yang lurus. Mereka senantiasa memberikan petunjuk kepada jalan yang benar. Kehidupan mereka militan, istiqamah, membela kebenaran dan menegakkan keadilan. Di dunia mereka memperoleh kesejahteraan, sedangkan di akhirat mereka memperoleh kebahagiaan dengan masuk ke dalam surga dan meraih ridha Allah SWT.

Sisi kedua adalah golongan manusia yang mendustakan kebenaran. Hati mereka telah tertutup dari hidayah. Kehidupan mereka dipenuhi amarah dan dosa. Mereka terbuai oleh hawa nafsu, terseret ombak dunia dan hiruk pikuk jabatan. Mereka tenggelam dalam hedonisme kekuasaan dan keserakahan. Walaupun memiliki ilmu yang melimpah, harta yang bergelimpangan dan jabatan yang tinggi, pada akhirnya mereka jatuh ke jurang kehinaan. Di dunia mereka bisa terjerumus ke dalam penjara, sedangkan di akhirat mereka diseret ke dalam api neraka. Na’udzu billahi min dzalik.

Dalam filsafat dikenal ungkapan bahwa kehidupan adalah dualitas. Selalu ada dua sisi yang saling berlawanan; baik dan buruk, cinta dan benci, siang dan malam, laki-laki dan perempuan, benar dan salah, terang dan gelap, sengsara dan bahagia, mudah dan sulit, serta surga dan neraka.

Demikian pula dengan manusia yang memiliki profesi yang sama, namun berbeda dalam tindakan. Di kalangan ulama, ada yang tegak lurus dan menjadi pembela kebenaran, namun ada pula yang menyimpang dari kebenaran, gemar menjilat penguasa dan mendekati kekuasaan demi mencari keuntungan. Di kalangan penguasa, ada yang sederhana, jujur, adil dan santun, tetapi ada pula yang zalim, rakus terhadap harta dan jabatan, gemar mengubah konstitusi, tidak malu melakukan korupsi, bahkan tega mengkhianati dan tidak memiliki rasa kemanusiaan. Begitu pula di kalangan pengusaha, ada yang dermawan, tetapi ada pula yang sangat kikir dan serakah, bahkan berupaya merampas hak-hak rakyat kecil melalui kedekatannya dengan kekuasaan.

Untuk memahami lebih dalam tema “Dari Dua Sisi yang Berbeda” ini, para ulama tafsir, baik dari kalangan salaf maupun khalaf, memberikan penjelasan yang sangat berharga.

Tentang firman Allah:

وَمِمَّنْ خَلَقْنَا أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ

Imam Jalaluddin As-Suyuthi menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah umat Nabi Muhammad SAW. Hal itu diperkuat oleh hadis riwayat Mu’awiyah bin Abi Sufyan, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ، وَلَا مَنْ خَالَفَهُمْ، حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

“Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tegak di atas kebenaran. Tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang merendahkan ataupun menentang mereka hingga datang hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

1 2 3Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button