Mengapa Anies Membuat Partai Gerakan Rakyat?
Jika PGR gagal membangun sumber pendanaan yang transparan dan kuat, partai ini berisiko menjadi partai papan bawah atau bahkan menghilang sebelum 2029.
Di sinilah muncul pertanyaan strategis: apakah Anies perlu sepenuhnya bertumpu pada Partai Gerakan Rakyat atau tetap menjaga hubungan dengan partai-partai yang mendukung pada 2024? Secara realistis, Anies masih memiliki peluang besar untuk melobi partai mapan seperti Partai Nasden dan PKS, dua partai yang memiliki rekam jejak dukungan terhadapnya.
PKS, misalnya, memiliki basis pemilih ideologis yang relatif solid dan struktur kader hingga akar rumput. Nasdem kuat secara logistik dan pengalaman dalam pemilu. Ray Rangkuti melihat koalisi sebagai pilihan yang lebih rasional, “Partai baru bisa menjadi alat tawar, tapi untuk menang, Anies tetap membutuhkan partai besar yang punya kursi, dana, dan jaringan,” ujarnya.
Dalam skema ini, PGR tidak harus menjadi satu-satunya kendaraan, melainkan alat tekanan politik agar posisi tawar Anies dalam koalisi lebih kuat.
Masa depan PGR sangat ditentukan oleh satu hal: apakah ia bisa melampaui figur Anies Baswedan. Jika PGR mampu membangun ideologi yang jelas, merekrut tokoh-tokoh non-Anies, dan lolos ke parlemen, maka ia bisa menjadi kekuatan politik baru yang relevan. Namun jika tidak, PGR hanya menjadi kendaraan yang menurunkan kredibilitas Anies.
Maka sambil membangun PGR agar menjadi partai yang besar dan mandiri, Anies harus tetap membuka ruang koalisi dengan NasDem, PKS, dan partai mapan lainnya. Dengan begitu, Anies tidak menggantungkan masa depannya pada satu kendaraan saja, tetapi menyiapkan beberapa jalur menuju 2029.
Menurut survei Media Survei Nasional (Median) terkini, Anies menempati posisi kedua dalam elektabilitas calon presiden, dengan angka sekitar 19,9%, hanya selisih kurang lebih 7,9% dari pemimpin survei, Prabowo Subianto, yang berada di sekitar 27,8%. Posisi ketiga diduduki Dedi Mulyadi di kisaran 17,4 %.
Jangan sampai Anies mengulangi kegagalan tokoh Islam Amien Rais pada pemilu 1999 dan 2004. Ketokohan Amien Rais pada 1997-1999, sulit dikalahkan dengan tokoh lain. Bila Amien pidato atau hadir di suatu tempat, maka ribuan masyarakat berbondong-bondong menyaksikannya. Tapi ketika Amien mencoba membuat partai nasionalis relijius (PAN), perolehan suaranya kurang menggembirakan. Sehingga akhirnya Amien Rais gagal menjadi presiden dan ‘hanya’ menjadi Ketua MPR.
Beberapa tokoh Islam saat itu menyayangkan, karena Amien tidak membuat atau mau bergabung dengan Partai Islam yang jelas-jelas pendukungnya militan saat itu. Baik bergabung dengan PBB, PPP atau PKS. Amien menyatakan saat itu Partai Islam adalah seperti baju yang sempit.
Anies memang beda Amien Rais. Bila Amien Rais kental keislamannya, Anies agak cair. Meski keislamannya juga tidak diragukan. Anies bisa merangkul kalangan non Muslim, anak-anak muda dan juga pihak Barat. Anies dianggap sosok yang agamis tapi tidak menakutkan bagi pemeluk agama lain.
Anies juga mempunyai keunggulan dalam manajemen dan pengalaman organisasi yang panjang. Apakah Anies akan berhasil dengan Partai Gerakan Rakyat 2029? Mudah-mudahan. Wallahu azizun hakim.[]
Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.






