SILATURAHIM

Mengenang KH Syuhada Bahri: Kader Terbaik Pak Natsir, Dai Pelosok Indonesia

Suatu ketika, Pak Natsir mengutus Ustadz Muzayyin ke Kuwait untuk mewakilinya dalam satu acara. Setelah dari Kuwait, Ustadz Muzayyin ditugaskan untuk langsung ke Makkah, juga dalam rangka mewakili Pak Natsir dalam satu acara.

Di waktu yang sama, Syuhada Bahri ditugaskan mewakili Pak Natsir ke Sitiung, daerah transmigrasi di pedalaman Sumatera Barat. Jalan menuju ke sana berupa tanah yang becek diguyur hujan. ’’Ban mobil sudah dikalungi rantai pun, tetap saja slip dan tidak bisa jalan sehingga harus kita dorong,’’ kenang Syuhada.

Ustaz Syuhada Bahri menjadi pembimbing umroh dan haji.

Setelah selesai, Pak Natsir mengirim surat kepada Syuhada melalui Ustaz Abdul Wahid Alwi agar meneruskan tugas langsung ke Mentawai yang waktu itu masih bagian dari Kabupaten Pariaman, Sumatera Barat.

’’Saat itu saya berseloroh, Ustaz Muzayyin bajunya makin panjang karena ditugaskan ke Arab, sementara baju saya makin pendek karena ditugaskan makin ke pelosok. Orang Mentawai kan cuma pakai kabit (cawat -Red),’’ tutur Syuhada Bahri.

Jabatan terakhir Syuhada Bahri di Dewan Da’wah sebelum diangkat menjadi Ketua Umum menggantikan almarhum Hussein Umar pada 28 Mei 2007, adalah sebagai Ketua Bidang Dakwah dan Diklat merangkap Ketua Dewan Dakwah DKI Jakarta.

Sebagaimana dengan Allahyarham Hussein Umar, Syuhada Bahri juga dikenal sebagai orator ulung. Menikah tahun 1985, ia dikaruniai 12 anak dari satu orang istri.

Usai melepas jabatan sebagai Ketua Umum Dewan Da’wah pada 2015, aktivitas dakwah ke pelosok-pelosok negeri dilanjutkan dalam kapasitasnya sebagai Ketua Lembaga Dakwah Parmusi (LDP).

red: shodiq ramadhan/Nurbowo, Tabloid Suara Islam.

Laman sebelumnya 1 2

Artikel Terkait

Back to top button