Mengokohkan Pendidikan Adab di Perguruan Tinggi
Pembangunan manusia Indonesia harus selaras dengan cita-cita luhur yang terpatri dalam lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya: “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.” Frasa tersebut menegaskan bahwa pembangunan fisik dan intelektual harus berjalan beriringan dengan pembangunan moral dan spiritual.
Program Kampus Berdampak, transformasi digital kampus, serta internasionalisasi pendidikan tentu penting dan patut diapresiasi. Namun, di tengah arus globalisasi dan disrupsi teknologi, justru penguatan adab menjadi semakin mendesak. Dunia digital membuka ruang ekspresi yang luas, tetapi tanpa kendali nilai dapat menjerumuskan pada polarisasi, ujaran kebencian, perpecahan dan degradasi etika.
Pendidikan tinggi harus mampu membekali mahasiswa dengan literasi digital yang beradab—yakni kemampuan menggunakan teknologi secara bijak, bertanggung jawab, dan bermartabat.
Pada akhirnya, mengokohkan pendidikan adab di perguruan tinggi bukanlah agenda tambahan, melainkan inti dari misi pendidikan itu sendiri. Perguruan tinggi yang berhasil bukan hanya yang meluluskan sarjana dengan indeks prestasi tinggi, tetapi yang melahirkan insan beradab, berintegritas, berempati, dan memiliki komitmen kebangsaan yang kuat.
Sumber daya manusia yang demikianlah yang akan menjadi solusi atas berbagai persoalan bangsa—dari krisis moral, ketimpangan sosial, hingga tantangan pembangunan berkelanjutan.
Indonesia membutuhkan generasi terdidik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan kokoh secara moral. Dengan meneguhkan kembali pendidikan adab sebagai ruh perguruan tinggi, kita menanam fondasi bagi terwujudnya masyarakat yang berkeadaban dan negara yang maju.
Menuju Indonesia Maju bukan semata proyek ekonomi dan infrastruktur, melainkan proyek peradaban. Dan perguruan tinggi adalah salah satu pilar terpentingnya.
Dr. Hambari, M.A., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Dakwah Universitas Ibn Khaldun Bogor.






