Menunggu Manuver Mojtaba Khamenei
Pilihan pertama berarti menerima kehancuran lebih lanjut atau melakukan manuver-manuver proksi yang lebih strategis dan jitu. Pilihan kedua berarti membongkar warisan 37 tahun ayahnya dalam satu sore. Ini adalah pilihan antara mempertahankan identitas atau mempertahankan eksistensi fisik.
Mojtaba memiliki kelebihan unik untuk menjual pilihan mana pun kepada basis pendukungnya. Jika memilih berperang, ia bisa membingkainya sebagai balas dendam yang sah, jihad, atau yang disebut sebagai ‘self-defense’—membela diri. Jika memilih kompromi, ia bisa menggunakan statusnya sebagai pewaris untuk mengatakan: “Demi kelangsungan sistem, saya, yang paling berhak menuntut balas, memilih untuk mengampuni.”
Ini adalah manuver simbolis yang hanya bisa dilakukan oleh anggota keluarga langsung. Akan tetapi, agak sulit untuk ‘mengampuni’ dalam kondisi saat ini—dan rasanya Iran tidak akan ke sana.
Negar Mojtahedi dalam tulisannya juga mengutip pendapat Dr. Eric Mandel, Direktur Middle East Political and Information Network (MEPIN) yang mengatakan, “Mojtaba telah lama menjadi tokoh sentral namun tidak jelas dalam struktur kekuasaan Teheran.” Artinya, dia adalah ‘tokoh sentral’, tapi banyak di balik layar.
Pertanyaan tentang “pemimpin seperti apa Mojtaba nanti” mungkin tidak tepat. Pertanyaan yang lebih tepat adalah: mampukah dia memimpin Iran keluar dari reruntuhan ini? Atau mungkin kata ‘reruntuhan’ terlalu berlebihan, sebab orang Iran kelihatannya tidak mudah diruntuhkan.
Pada akhirnya, seperti kata pepatah lama: “Istana bisa dibangun kembali, tetapi hati yang hancur tidak bisa dipulihkan.” Kita menunggu manuver strategis selanjutnya dari Mojtaba Khamenei: perang singkat, perang panjang, atau yang lainnya.[]






