QUR'AN-HADITS

Menyeru Kebaikan tapi Lupa Diri Sendiri

Selain itu, Fakhruddin Ar-Razi dalam kitab “Mafatiḥ al-Ghaib” melihat ayat ini dari sisi rasional. Ia menjelaskan bahwa pertanyaan “afalā ta‘qilūn” menunjukkan bahwa perilaku tidak konsisten antara ucapan dan perbuatan bertentangan dengan akal sehat. Orang yang berpikir jernih tentu akan berusaha menyelaraskan ilmu yang dimilikinya dengan tindakan nyata.

Pesan QS. al-Baqarah ayat 44 juga diperkuat oleh hadis Nabi Muhammad Saw: “Seseorang akan didatangkan pada hari kiamat, lalu dilemparkan ke dalam neraka. Ususnya terburai, lalu ia berputar sebagaimana keledai berputar pada alat penggiling. Penduduk neraka bertanya, ‘Bukankah engkau dahulu menyuruh kepada kebaikan dan melarang kemungkaran?’ Ia menjawab, ‘Aku menyuruh kepada kebaikan, tetapi aku tidak mengerjakannya, dan aku melarang kemungkaran, tetapi aku melakukannya.’” (HR. al-Bukhari, no. 3267; Muslim, no. 2989)

Hadis ini menunjukkan betapa berat konsekuensi moral bagi orang yang memiliki ilmu dan peran dakwah, tetapi tidak konsisten dalam pengamalan.

Hikmah dan Pelajaran

Apabila dikaitkan dengan realitas kehidupan saat ini, pesan QS. al-Baqarah ayat 44 terasa sangat relevan dan dekat dengan pengalaman sehari-hari. Tidak sedikit orang yang memiliki pengetahuan agama yang memadai, bahkan aktif memberikan ceramah, nasihat, atau ajakan kebaikan kepada orang lain.

Namun, dalam praktiknya, nilai-nilai yang disampaikan tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam sikap dan perilaku pribadi. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan utama dalam kehidupan beragama sering kali bukan terletak pada minimnya ilmu, melainkan pada lemahnya komitmen untuk mengamalkan ilmu tersebut secara konsisten.

Hikmah penting yang dapat dipetik dari ayat ini adalah perlunya menjaga keseimbangan antara pengetahuan dan pengamalan. Dalam pandangan Islam, kualitas seseorang tidak hanya diukur dari luasnya wawasan keagamaan yang dimiliki, tetapi juga dari sejauh mana ilmu tersebut diwujudkan dalam perbuatan nyata.

Oleh karena itu, ayat ini mengajarkan setiap muslim untuk senantiasa melakukan introspeksi diri, memperbaiki amal pribadi, dan menata niat sebelum menyampaikan nasihat atau berdakwah kepada orang lain. Keteladanan menjadi unsur penting agar ajakan kebaikan memiliki kekuatan moral dan pengaruh yang nyata. Wallahu a’lam.[]

*Mahasiswa Prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, Universitas PTIQ Jakarta.

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button