GERAKAN ISLAM

Rawat Warisan Pak Natsir, DDII Perkuat Kaderisasi dan Pengiriman Dai ke Wilayah 3T

Jakarta (Suaraislam.id)Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) menegaskan komitmennya untuk terus menghidupkan dakwah di berbagai pelosok Indonesia, khususnya wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Komitmen tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang dakwah pedalaman yang telah berlangsung selama lebih dari lima dekade.

Hal itu disampaikan Ketua Umum DDII, Adian Husaini, dalam acara Tasyakur 55 Tahun Dakwah Pedalaman Dewan Dakwah yang digelar di Menara Dakwah, Jalan Kramat Raya 45, Jakarta Pusat, Sabtu (15/8/2026).

Adian mengatakan bahwa sejak awal berdirinya DDII, pengiriman dai ke berbagai daerah telah menjadi bagian penting dari perjuangan organisasi. Hingga saat ini, lebih dari 10.000 dai telah dikirim untuk berdakwah dan membina masyarakat di berbagai pelosok Indonesia.

Menurutnya, tradisi tersebut merupakan warisan perjuangan para pendiri Dewan Dakwah, khususnya Mohammad Natsir. Dakwah ke pedalaman, kata Adian, tidak boleh berhenti hanya karena keterbatasan sumber daya.

“Dakwah pedalaman harus jalan. Enggak ada duitnya, cari,” ujarnya mengutip semangat Mohammad Natsir dalam menggerakkan dakwah ke berbagai daerah.

Ia menuturkan bahwa semangat tersebut hingga kini masih menjadi bagian dari budaya perjuangan Dewan Dakwah. Bahkan, para dai yang dikirim ke daerah tidak diarahkan untuk mencari lokasi penugasan yang mudah.

Tantangan kehidupan di daerah penempatan justru menjadi bagian dari proses pembentukan jiwa perjuangan seorang dai. Oleh karena itu, para dai muda yang telah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir tidak diberikan keleluasaan untuk memilih lokasi penugasan.

“Begitu namanya diumumkan lulus wisuda langsung dengan daerah penempatannya. Tidak boleh memilih. Jadi betul-betul harus tawakal, siap,” ujarnya.

Lebih lanjut, Adian mengungkapkan bahwa kebutuhan dai di berbagai daerah saat ini semakin tinggi. Ia menyebut permintaan dai kepada Dewan Dakwah telah mencapai lebih dari 300 orang.

Bahkan pada tahun sebelumnya, saat DDII melepas sekitar 220 dai di gedung MPR RI, permintaan dari berbagai daerah mencapai lebih dari 400 dai. “Jadi tidak ada alumni STID Mohammad Natsir yang menganggur,” katanya.

Tingginya kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan dai masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para alumni STID Mohammad Natsir yang selama ini telah mengabdikan diri di berbagai daerah. Sekitar 1.400 alumni STID Mohammad Natsir telah berkiprah dan tersebar di berbagai bidang dakwah, pendidikan, serta pembinaan masyarakat.

Ia menilai keberadaan kampus tersebut merupakan bagian penting dari kesinambungan kaderisasi dai yang telah dirintis para tokoh Dewan Dakwah sejak masa awal. “Tidak mudah anak muda, sarjana, berani terjun ke daerah-daerah,” ujarnya.

1 2Laman berikutnya
Back to top button