LAPSUS

Meshaal dan Al-Hayya Bersaing Ketat Pimpin Perjuangan Baru Hamas

Ketahanan Kelembagaan

Kerangka pemilihan yang digunakan saat ini sejatinya berasal dari hasil pemilihan umum internal Hamas pada awal tahun 2021. Dalam pemilu internal tersebut, Ismail Haniyeh terpilih sebagai Ketua Biro Politik Hamas, sementara Yahya Sinwar memimpin gerakan di Jalur Gaza.

Adapun Khaled Meshaal dipilih secara khusus untuk memimpin sayap diaspora Hamas di luar negeri. Struktur organisasi ini kemudian menghadapi ujian yang belum pernah terjadi sebelumnya ketika Israel secara agresif menargetkan berbagai tingkat kepemimpinan mereka.

Pada Juli 2024, Ismail Haniyeh gugur syahid dalam serangan teror di Teheran, Iran. Pasca-kejadian tersebut, Dewan Syura Hamas bergerak cepat menunjuk Yahya Sinwar sebagai penggantinya pada Agustus 2024.

Namun, setelah Sinwar gugur dalam pertempuran sengit melawan pasukan pendudukan di Rafah pada Oktober 2024, penyesuaian kembali dilakukan. Hamas membentuk dewan kepemimpinan sementara yang terdiri atas lima orang untuk menjalankan roda organisasi sekaligus memimpin proses perundingan.

Komite transisi tersebut sejak saat itu secara nominal dipimpin oleh seorang pejabat Hamas yang berbasis di Qatar, Mohammad Darwish. Meskipun Israel mengeklaim tujuan utamanya adalah menghancurkan struktur komando Hamas, transisi yang teratur ini membuktikan bahwa mekanisme organisasi mereka tetap solid.

Struktur Organisasi yang Tetap Bertahan

Analis politik Palestina, Wissam Afifa, mengibaratkan struktur organisasi Hamas bekerja layaknya proses biologis pembelahan mitosis. Dalam situasi krisis, prosedur darurat dan rencana cadangan secara otomatis mengaktifkan lapisan kedua kepemimpinan untuk mengambil alih tugas-tugas organisasi.

Afifa menegaskan bahwa kelangsungan organisasi Hamas tidak pernah bergantung pada satu orang saja meskipun sosok karismatik sulit digantikan. Oleh karena itu, gerakan ini terbukti mampu menyerap guncangan besar, termasuk kehilangan para pemimpin utamanya di medan perang.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Abdullah Aqrabawi menilai keteguhan Hamas mematuhi anggaran dasar di tengah perang menunjukkan kuatnya budaya kelembagaan mereka. Alih-alih menunjuk pemimpin baru secara tergesa-gesa melalui kesepakatan elite, mereka tetap menjalankan pemungutan suara sesuai mekanisme yang sah.

Menurut Aqrabawi, adanya persaingan terbuka antara dua kandidat utama juga mencerminkan berlangsungnya perdebatan internal yang sehat. Hal ini menunjukkan dinamika yang positif mengenai arah politik dan strategi gerakan pada masa yang sangat menentukan.

Pergeseran Pusat Pengambilan Keputusan

Meski demikian, eskalasi perang yang masif telah memaksa Hamas melakukan sejumlah penyesuaian struktural dalam cara organisasi dijalankan. Wissam Afifa menjelaskan bahwa intensitas serangan Israel di Jalur Gaza membuat sebagian kewenangan harus dialihkan kepada kepemimpinan di luar negeri.

Para pemimpin politik Hamas yang bermarkas di luar Palestina kini diberikan mandat yang lebih luas untuk mengambil berbagai keputusan strategis. Pelimpahan kewenangan ini memungkinkan para pemimpin eksternal menjalankan manuver diplomatik tanpa berada di bawah tekanan langsung medan pertempuran.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button