LAPSUS

Meshaal dan Al-Hayya Bersaing Ketat Pimpin Perjuangan Baru Hamas

Pusat kepemimpinan di luar Gaza tetap memainkan peran vital meskipun mereka juga menghadapi ancaman pembunuhan langsung dari zionis. Pada September tahun lalu, Israel melancarkan serangan ke kompleks permukiman di Doha, Qatar, tetapi para tokoh senior Hamas berhasil selamat.

Afifa menambahkan bahwa model kepemimpinan kolektif memang sangat membantu dalam membangun konsensus internal selama masa transisi ini. Namun, sejarah mencatat bahwa Hamas tetap memerlukan sosok pemimpin tunggal yang kuat agar mampu mengambil keputusan besar pada saat-saat krusial.

Dampak terhadap Diplomasi dan Pascaperang

Hasil pemilihan pekan depan diperkirakan akan sangat menentukan arah dan cara Hamas dalam mengelola perundingan gencatan senjata. Selama ini, Khalil al-Hayya berperan aktif sebagai negosiator utama dan memimpin perundingan dari berbagai pusat diplomasi regional, terutama di Qatar.

Sebaliknya, Khaled Meshaal dalam setahun terakhir relatif tidak terlibat langsung dalam proses meja perundingan tersebut. Menurut sumber internal kedua, kemenangan al-Hayya sebagai ketua kemungkinan akan membawa perubahan pada struktur komite negosiasi.

Namun jika Khaled Meshaal yang terpilih, kerangka negosiasi diperkirakan akan tetap berjalan menggunakan format yang ada saat ini. Dalam skenario tersebut, al-Hayya akan tetap memegang tanggung jawab langsung atas berkas Gaza sekaligus memimpin tim perunding.

Pada akhirnya, perombakan personel maupun perubahan strategi diplomatik sepenuhnya akan menjadi hak prerogatif pemimpin baru yang terpilih. Langkah ini menjadi krusial untuk menentukan posisi tawar gerakan di mata internasional.

Tantangan Pemimpin Baru

Ke depan, pemimpin baru Hamas dipastikan akan menghadapi tugas yang sangat berat di pundaknya. Selain memimpin organisasi pascaperang, ia harus mengelola proses rekonstruksi Gaza dan memperbaiki hubungan dengan faksi Palestina lainnya, terutama Fatah.

Ia juga dituntut piawai menentukan arah perjuangan politik Hamas dalam situasi regional Timur Tengah yang terus berubah. Abdullah Aqrabawi menilai prioritas paling mendesak bagi kepemimpinan baru adalah mempertahankan keuntungan geopolitik yang telah diraih oleh perlawanan Palestina.

Di sisi lain, pemimpin baru harus tetap melindungi kondisi kemanusiaan serta tatanan sosial masyarakat Gaza yang terdampak parah. Mengubah arah perjuangan atau menunjukkan tanda-tanda mundur saat konflik masih berlangsung justru dinilai akan merugikan gerakan.

Aqrabawi berpendapat dinamika kawasan saat ini menunjukkan Israel semakin menghadapi kesulitan untuk memaksakan kehendak militernya. Kondisi inilah yang perlu dipertimbangkan secara matang oleh kepemimpinan Hamas berikutnya dalam menentukan langkah politik organisasi.

Penutup

Pemilihan ketua Biro Politik Hamas pekan depan dipandang sebagai salah satu momen paling penting sejak pecahnya perang Gaza. Setelah kehilangan sejumlah pemimpin utamanya, Hamas berupaya menunjukkan kepada dunia bahwa mekanisme organisasi mereka tetap berjalan solid.

Persaingan antara Khaled Meshaal dan Khalil al-Hayya bukan hanya menentukan sosok pemimpin gerakan hingga tahun 2027 mendatang. Agenda ini juga diperkirakan akan memengaruhi arah negosiasi gencatan senjata, hubungan dengan negara mediator, serta masa depan rekonstruksi Gaza. []

Mohammad Mansour

Reporter: Aljazeera.com

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button