SOSOK

Natsir, NKRI dan Teladan Generasi Muda

Jika kita melihat sejarah perjalanan bangsa Indonesia, tanggal 3 April 1950 merupakan hari berlakunya peristiwa bersejarah, Mohammad Natsir (M. Natsir) menyampaikan gagasan Mosi Integral di Parlemen.

Hal tersebut adalah langkah krusial dalam rangka upaya menyatukan negara-negara bagian Republik Indonesia Serikat (RIS) yang terkotak-kotak untuk kembali menjadi satu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Saat ini sedang diupayakan pengusulan tanggal 3 April untuk dikukuhkan sebagai Hari Nasional NKRI, dan tokohnya M. Natsir sebagai Bapak NKRI.

Penulis mulai mengenal lebih dalam sosok M. Natsir saat awal kuliah S1 di International Islamic University Malaysia sekitar tahun 2008-2009 dengan membaca buku-buku karya M. Natsir yang terdapat di perpustakaan kampus IIUM Dar al-Hikmah Library, diantaranya “Capita Selecta” dan “Fiqhud Dakwah.”

Saat kuliah S2 berkesempatan diajar oleh salah satu murid M. Natsir yang menjadi dosen di IIUM Dr. Sohirin Mohammad Solihin, yang pada tahun 2013 beliau menerbitkan buku “Mohammad Natsir: Islamic Intellectualism and Activism in Modern Age”, begitu juga ketika kuliah S3 diajar oleh salah seorang tokoh ilmuwan Malaysia yang juga mantan Rektor IIUM, beliau juga pengagum M. Natsir, Profesor Emeritus Tan Sri Dr. Mohd Kamal Hassan.

Pada mata kuliah yang diampu oleh beliau penulis mendapat pujian ketika presentasi terkait pemikiran M. Natsir dalam bidang politik, pendidikan dan dakwah. Saat pulang ke Indonesia, penulis bersyukur bisa berkhidmat di lembaga yang pendiriannya terinspirasi dari gagasan M. Natsir tentang Universitas Islam dan Konsep Tiga Pilar Umat: Masjid, Kampus dan Pesantren, yaitu: Universitas Ibn Khaldun Bogor dan Pondok Pesantren Mahasiswa dan Sarjana Ulil Albaab.

M. Natsir adalah salah satu tokoh besar bangsa yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2008, jejak perjuangannya begitu penting dalam sejarah Indonesia. Lahir di Alahan Panjang, Solok, Sumatera Barat, pada 1908, Natsir dikenal sebagai tokoh intelektual, ulama, sekaligus negarawan pelaku sejarah yang berperan besar dalam membangun dasar negara sejak awal kemerdekaan.

Di antara jasanya yang paling monumental adalah gagasan Mosi Integral Natsir pada tahun 1950 yang berhasil menyatukan kembali Indonesia dari bentuk negara federal Republik Indonesia Sarikat (RIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Melalui pemikiran yang jernih dan pendekatan yang bijak, ia mampu menjembatani berbagai kepentingan politik saat itu demi persatuan bangsa.

Selain itu, Natsir juga pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia, menunjukkan kapasitasnya sebagai pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang dalam mengambil keputusan strategis bagi negara yang kala itu masih muda.

Dalam perjuangannya, Natsir memadukan nilai-nilai keislaman dengan semangat kebangsaan secara harmonis. Ia meyakini bahwa Islam bukan sekadar ajaran ritual, melainkan juga pedoman hidup yang mencakup aspek sosial, pendidikan, politik, dan budaya.

Namun demikian, Natsir tidak memaksakan formalisasi agama secara sempit, melainkan mengedepankan substansi nilai-nilai Islam seperti ketuhanan (tauhid), keadilan, kejujuran, kedamaian, persatuan dan kemaslahatan dalam kehidupan berbangsa. Baginya, menjadi seorang Muslim yang baik sejalan dengan menjadi warga negara Indonesia yang bertanggung jawab dan cinta tanah air.

Ia memperjuangkan Indonesia yang bersatu, adil, sejahtera dan beradab, dengan menjadikan agama sebagai sumber etika dan persatuan bukan sumber permusuhan dan perpecahan. Sikap ini menunjukkan kedewasaan berpikir serta komitmennya terhadap persatuan dalam keberagaman.

1 2Laman berikutnya
Back to top button