OASE

Orang Cerdas Menurut Islam

Dalam redaksi lain, Rasulullah Saw bersabda:

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ

“Orang cerdas adalah orang yang rendah diri dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, dan orang lemah adalah orang yang mengikutkan dirinya pada hawa nafsunya dan berangan-angan atas Allah.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Karenanya orang cerdas bukanlah orang yang memiliki sederet gelar akademik. Namun ia tidak beriman, tidak tunduk pada hukum syariat Islam kaffah. Akan tetapi orang cerdas adalah orang-orang yang mampu menggunakan akalnya hingga mampu mengantarkannya kepada keimanan kepada Allah SWT.

Akalnya mampu membuktikan tentang keberadaan Allah SWT sebagai Sang Maha Pencipta lagi Maha Pengatur (Al-Khaliq Al-Mudabbir), dengan melakukan penelitian, penginderaan, dan perenungan terhadap fakta kehidupan yang faktanya sangat teratur, dari ketiadaan menjadi ada kemudian tiada kembali, yang menunjukan bahwa manusia, alam semesta, dan kehiduapan adalah makhluk yang diciptakan Pencipta yaitu Allah SWT yang satu, yang menciptakan setiap makhluk.

Dan manusia adalah salah satu makhluk ciptaan Allah SWT yang harus tunduk patuh pada aturan Allah SWT. Demikianlah makna cerdas, yaitu kondisi yang dapat mengantarkan pada keimanan kepada Allah SWT, dan mampu menundukan hawa nafsunya agar taat kepada Allah SWT, dan melaksanakan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.

Adapun gelar akademik, hanyalah aksesoris yang dimiliki seseorang, yang tidak menjamin cerdas tidaknya seseorang.

Karenanya, agar benar-benar cerdas, maka seseorang harus mengupayakan agar mampu mengumpulkan bekal berupa amal saleh yang banyak, dengan melaksanakan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya, hingga dalam perkara membuang duri di jalanan agar manusia yang lewat jalan tersebut tidak celaka karenanya, semata karena Allah SWT.

Maka berbahagialah orang-orang yang cerdas yaitu orang-orang yang senantiasa mengingat mati, sehingga terdorong untuk melakukan amal saleh di dunia, untuk dijadikan sebagai bekal kelak di kehidupan akhirat yang abadi. Wallahu’alam.

Ayu Mela Yulianti, S.Pt., Pegiat Literasi dan Pemerhati Kebijakan Publik

Laman sebelumnya 1 2
BACA JUGA
Close
Back to top button