Amalan Suci yang Terkotori
Oleh: Muhibbullah Azfa Manik
Aroma anyir darah bercampur pekatnya bau isi lambung sapi menyeruak dari parit di samping Masjid Al-Ikhlas siang itu. Azan zuhur baru saja berkumandang memanggil orang-orang untuk bersujud, tetapi kegaduhan di halaman masjid tidak juga surut.
Rasyid sibuk mengasah pisaunya yang mulai tumpul di atas batu asahan dengan kaus oblong yang sudah basah oleh keringat. Di dekatnya, seekor sapi seberat empat ratus kilogram meronta hebat karena ketakutan melihat rekannya baru saja meregang nyawa.
Hewan tersebut akhirnya melepaskan diri dari ikatan simpul mati yang menjerat lehernya lalu kabur menerjang barisan warga. Kejadian tak terduga itu seketika memicu jeritan histeris dari anak-anak dan menimbulkan kepanikan massal.
Petaka di Balik Bilah Tumpul
Apa yang terjadi di halaman Masjid Al-Ikhlas sesungguhnya adalah potret buram yang selalu berulang setiap Iduladha. Ritual yang sejatinya sarat dengan pesan kemanusiaan sering kali berubah menjadi ajang penyiksaan hewan akibat kelalaian manajemen panitia.
Miftah, seorang dokter hewan yang kebetulan melintas, hanya bisa menggelengkan kepala melihat perlakuan kasar para pemuda setempat. Mereka membanting, menyeret, bahkan memukul kepala sapi yang kabur tadi agar hewan itu segera menyerah.
Prinsip animal welfare seolah menguap begitu saja di bawah terik matahari yang menyengat. Hal itu terjadi karena panitia digantikan oleh ambisi untuk menyelesaikan pekerjaan menyembelih secepat mungkin.
Ketergesa-gesaan yang tidak berdasar ini membawa dampak berantai yang jauh lebih mengerikan. Hakim, salah satu jagal dadakan, tampak sudah memegang pisau seset meski urat leher sapi belum benar-benar putus.
Proses menguliti yang terlalu dini ini jelas menyalahi syariat Islam karena menyiksa makhluk hidup. Di sudut lain, Ahmad duduk termangu menjaga belasan sapi yang sedang mengantre giliran.
Sapi-sapi itu terpaksa menyaksikan langsung karibnya dikuliti di depan mata mereka. Jalur antrean yang buruk tanpa pembatas visual seperti terpal menjadi hulu dari segala kepanikan hewan tersebut.
Aroma Busuk di Rumah Suci
Ketika sore menjelang, masalah baru terkait higienitas mulai muncul ke permukaan pelataran masjid. Tempat penampungan darah yang tidak segera diguyur air mulai membusuk dan mengundang ribuan lalat hijau.
Limbah kurban berupa potongan lemak dan kotoran perut dibiarkan menumpuk di area terbuka. Salim, salah seorang jemaah yang hendak melaksanakan salat asar, terpaksa menutup hidungnya rapat-rapat saat melintasi selasar.
Bau menyengat itu menyusup hingga ke dalam saf sehingga merusak kekhusyukan ibadah para jemaah. Hal ini terjadi karena area penyembelihan tidak dibagi menjadi zona bersih dan zona kotor.






