Orang Cerdas Menurut Islam
Allah SWT menyampaikan kabar melalui lisan Baginda Rasulullah Saw, bahwa orang yang cerdas adalah orang yang banyak mengingat mati dan mempersiapkan bekalnya.
Sebab orang cerdas sangat memahami jika kehidupan setelah mati adalah sebenar-benarnya kehidupan, kehidupan yang abadi, kehidupan yang memerlukan bekal yang juga abadi, yaitu amal saleh yang dilakukan di dunia, selama hidup di dunia, bukan saat manusia dihidupkan kembali di akhirat.
Karena kehidupan akhirat adalah fase kehidupan menerima hasil perjuangan hidup melakukan amal saleh di dunia. Sehingga amal saleh itu akan berubah menjadi bekal abadi dalam kehidupan akhirat.
Amal saleh adalah amal yang baik yang dilakukan manusia, yaitu amal yang dilakukan sesuai dengan perintah Allah SWT dan larangan-Nya. Yang memenuhi dua unsur, yaitu niat ikhlas karena Allah SWT, dan cara melakukannya benar sesuai contoh dari Baginda Rasulullah Saw.
Karenanya, manusia cerdas adalah manusia yang senantiasa melakukan amal saleh dalam kehidupannya.
Yang senantiasa semangat dalam melaksanakan seluruh hukum syariat Islam kaffah. Shalat, puasa, zakat, haji, menuntut ilmu, berdakwah, hingga berjihad fisabilillah. Semua dilaksanakan dengan senang hati semata karena Allah SWT.
Karenanya, orang cerdas adalah orang yang mampu menemukan jati dirinya sebagai makhluk Allah SWT dan sadar bahwa dirinya harus tunduk patuh pada Allah SWT.
Orang cerdas adalah orang yang mampu beriman kepada Allah SWT, dan menerima seluruh syariatnya tanpa nanti dan tanpa tapi. Orang cerdas adalah orang yang mau diatur kehidupannya oleh hukum syariat Islam kaffah.
Orang cerdas adalah orang yang mampu menundukan hawa nafsunya, hanya demi taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Sehingga dengan semua itu, ia akan benar-benar mampu mempersiapkan bekal untuk kehidupan abadinya diakhirat, berupa amal saleh.
Sabda Rasulullah Saw:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ؟ قَالَ: “أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا”، قَالَ: فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ؟ قَالَ: “أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا، وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ” .
“Dari Ibnu Umar berkata: dahulu aku sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu datanglah kepada beliau seorang lelaki dari kaum Anshar, kemudian mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia bertanya: wahai Rasulullah, siapakah di antara orang-orang beriman yang paling utama? Beliau menjawab: yang paling baik akhlaknya. Lalu lelaki itu bertanya lagi: siapakah di antara orang-orang beriman yang paling cerdas? Beliau menjawab: yang paling banyak mengingat kematian, dan yang paling baik persiapannya menyambut kematian, mereka itulah orang-orang yang cerdas.” [HR. Ibnu Majah].






